Bursa Saham

Saham BACH Melesat 67%, Prospek Infrastruktur Telekomunikasi Tetap Menjanjikan

57
×

Saham BACH Melesat 67%, Prospek Infrastruktur Telekomunikasi Tetap Menjanjikan

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan harga saham PT Bach Multi Global Tbk di layar monitor perdagangan bursa efek
Saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) mencatatkan lonjakan harga sebesar 67,62% dalam sepekan terakhir.

JAKARTA – Saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) mencatatkan reli signifikan dengan penguatan sebesar 67,62% dalam sepekan terakhir. Pada penutupan perdagangan Jumat (31/7/2026), harga saham emiten tersebut bertengger di level Rp 880 per lembar.

Lonjakan harga ini mencerminkan tingginya antusiasme pelaku pasar terhadap prospek bisnis perseroan. Minat investor terdorong oleh pergeseran persepsi pasar mengenai model bisnis BACH yang kini dinilai sebagai pemain kunci dalam ekosistem infrastruktur telekomunikasi nasional.

Katalis utama penguatan saham ini adalah masuknya Grup Djarum sebagai pemegang saham pengendali melalui PT Global Teknologi Perkasa (GTP). Perubahan kepemilikan tersebut memberikan sentimen positif bagi kepercayaan investor terhadap tata kelola perusahaan ke depan.

Selain faktor kepemilikan, pasar mulai menyadari peran strategis BACH yang melampaui sekadar penyedia genset. Perseroan tercatat menangani sekitar 41.000 site telekomunikasi, menjadikannya bagian integral dari rantai pasok infrastruktur sektor tersebut.

Prospek jangka panjang sektor infrastruktur telekomunikasi pun dinilai masih sangat menjanjikan dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Kebutuhan akan menara telekomunikasi dan jaringan serat optik diproyeksikan terus meningkat seiring pesatnya transformasi digital di Indonesia.

Penyebab utama tingginya permintaan infrastruktur adalah kebutuhan korporasi dan pelanggan ritel yang terus tumbuh. Selain itu, transisi jaringan dari 4G ke 5G menuntut pembangunan menara dengan densitas lebih tinggi melalui teknologi microcells.

Kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan turut menjadi faktor pendorong kebutuhan infrastruktur pendukung yang masif. Kebutuhan dasar seperti listrik, menara, serat optik, hingga kabel bawah laut menjadi tulang punggung ekonomi digital nasional.

Pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) dan cloud computing juga menjadi motor penggerak permintaan infrastruktur yang lebih stabil. Sektor pendukung telekomunikasi memegang peranan strategis dalam menjamin keandalan konektivitas yang menjadi prasyarat utama pertumbuhan ekonomi digital.

Dalam operasional menara, ketersediaan sistem daya listrik yang andal menjadi prioritas utama bagi pembangunan Base Transceiver Station (BTS). Keberadaan sistem cadangan yang mumpuni, baik melalui kombinasi PLN, baterai, maupun genset, sangat krusial untuk menjaga uptime layanan.

Redundansi sistem daya menjadi standar operasional yang tidak bisa ditawar dalam menjaga keberlangsungan infrastruktur telekomunikasi. Peran perusahaan pendukung dalam menyediakan stabilitas daya dan jaringan menjadi penentu utama dalam ekosistem digital yang terus berkembang.

Secara fundamental, para analis menilai pasar kini mulai melihat model bisnis BACH secara lebih komprehensif. Kinerja perusahaan di masa mendatang akan menjadi penentu utama dalam menjaga momentum kepercayaan investor di pasar modal.