JAKARTA – Survei konsumen terbaru yang dirilis Bank Indonesia (BI) menunjukkan adanya pergeseran pola penggunaan pendapatan masyarakat pada Maret 2026. Data mencatat terjadi peningkatan porsi pendapatan untuk konsumsi, sementara alokasi untuk tabungan dan pembayaran cicilan utang mengalami penurunan.
Berdasarkan laporan yang dirilis Jumat, 10 April 2026, *average propensity to consume ratio* atau rata-rata pendapatan untuk konsumsi naik menjadi 72,2 persen pada Maret 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 71,6 persen.
Sebaliknya, porsi pendapatan yang dialokasikan untuk menabung atau *saving to income ratio* tercatat sebesar 17,6 persen. Meski relatif stabil, angka ini turun tipis dibandingkan catatan Februari 2026 yang sebesar 17,7 persen.
Sementara itu, porsi pendapatan untuk pembayaran cicilan atau utang (*debt installment to income ratio*) tercatat sebesar 10,2 persen. Angka tersebut menurun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 10,6 persen.
BI mencatat bahwa kenaikan rasio konsumsi terjadi pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Di sisi lain, porsi pembayaran cicilan justru mengalami penurunan secara merata di seluruh kelompok pengeluaran.
Meski BI tidak memberikan penjelasan spesifik terkait kenaikan alokasi konsumsi, periode Maret 2026 bertepatan dengan sejumlah momentum hari besar keagamaan, yakni perayaan Nyepi, bulan Ramadan, hingga Idul Fitri.
Kondisi ini menunjukkan perubahan perilaku keuangan konsumen dibandingkan Februari 2026. Pada bulan tersebut, masyarakat cenderung lebih memilih menabung, dengan kenaikan porsi tabungan dari 16,5 persen menjadi 17,7 persen. Sejalan dengan itu, porsi belanja dan pembayaran utang pada Februari justru sempat mengalami penurunan.







