Tutup
Regulasi

BI Diprediksi Tahan Suku Bunga, Begini Dampaknya bagi Saham Perbankan

99
×

BI Diprediksi Tahan Suku Bunga, Begini Dampaknya bagi Saham Perbankan

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pekan ini diprediksi akan kembali mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate). Stabilitas kebijakan moneter ini dinilai menjadi katalis positif bagi industri perbankan nasional, terutama dalam memaksimalkan transmisi bunga dan meredakan tekanan margin yang selama ini menghantui.

Sentimen positif ini diharapkan mampu menjadi angin segar bagi saham-saham perbankan yang sepanjang tahun ini (year to date/ytd) masih berada di zona merah. Hingga perdagangan Jumat (17/4), emiten “Big Banks” mencatatkan koreksi harga cukup dalam.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat mengalami penurunan paling dalam sebesar 20,43% ke level Rp 6.425 per saham. Menyusul PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang turun 15,1% ke Rp 3.710, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terkoreksi 9,41% ke Rp 4.620, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 6,28% ke Rp 3.430.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai bahwa stabilitas suku bunga akan menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit perbankan. “Pertumbuhan kredit diperkirakan berada di rentang high single digit hingga low double digit, didorong oleh pemulihan permintaan segmen konsumsi dan korporasi,” jelas Hendra.

Meski harga saham tengah tertekan, fundamental BBCA dinilai masih sangat solid. Berdasarkan laporan keuangan bank only per Februari 2026, BCA berhasil mencatatkan laba tahun berjalan sebesar Rp 9,2 triliun, tumbuh 2,81% secara tahunan (year on year) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 8,97 triliun.

Untuk menjaga kepercayaan investor, manajemen BBCA mengambil langkah strategis dengan aksi borong saham. Sepanjang akhir Maret lalu, lima direksi dan seorang komisaris BCA tercatat mengakumulasi kepemilikan saham mereka. Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, misalnya, menambah kepemilikan sebanyak 1,13 juta saham senilai Rp 7,93 miliar.

Selain aksi beli oleh manajemen, BBCA juga berencana membagikan dividen interim sebanyak tiga kali sepanjang tahun 2026, yang akan dilakukan setiap kuartal. Kebijakan ini, ditambah dengan program buyback, menjadi upaya nyata perusahaan dalam mengembalikan optimisme pasar.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menambahkan bahwa pelaku pasar sebenarnya sudah mengantisipasi kebijakan suku bunga yang stabil, mengingat volatilitas pasar dan pelemahan rupiah yang masih membayangi.

Nico menilai, di tengah PER yang masih berada di kisaran 15 kali, saham BBCA sebenarnya sangat menarik jika dibandingkan dengan bank digital seperti ARTO yang diperdagangkan pada PER 64 kali. Ia pun mematok target harga saham BBCA di level Rp 9.600 hingga akhir tahun, sementara Hendra Wardana memasang target di angka Rp 6.800 per saham.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Kinerja reksadana campuran berbalik melemah pada Maret 2026 setelah sempat mencatatkan hasil positif pada bulan sebelumnya. Berdasarkan data Infovesta, imbal hasil reksadana campuran turun 5,62% secara bulanan (month on month/MoM) pada Maret 2026. Sebelumnya, pada Februari 2026, kinerja instrumen ini masih tumbuh 1,44%. Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Penghimpunan dana di pasar modal masih semarak, terutama aksi penambahan modal dengan skema memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 17 April 2026, terdapat tiga perusahaan tercatat yang telah menerbitkan rights issue dengan total nilai Rp 3,75 triliun. Beberapa emiten baru mengantongi persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Harga emas dan perak melanjutkan penguatan pada pekan lalu, tetapi kenaikan ini dinilai belum mencerminkan perubahan tren di tengah ketidakpastian geopolitik global yang masih tinggi. Berdasarkan data Trading Economics, pada akhir perdagangan Jumat (17/4/2026), harga emas di pasar spot ditutup di level US$ 4.833 per ons troi, naik 1,72% dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara itu, harga perak secara mingguan menguat…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Kinerja reksadana campuran berbalik arah pada Maret 2026, dari semula mencatatkan imbal hasil positif menjadi tertekan. Berdasarkan data Infovesta, imbal hasil reksadana campuran pada Maret 2026 tercatat turun 5,62% secara bulanan. Padahal pada Februari 2026, kinerjanya masih tumbuh 1,44%. Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan,…