JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih belum mampu bangkit dari tekanan pasar. Hingga penutupan perdagangan Senin (20/4/2026), harga saham bank berkapitalisasi jumbo ini hanya menguat tipis 0,78% ke level Rp 6.475 per saham, angka yang masih jauh di bawah level psikologis Rp 7.000.
Secara *year to date* (YtD), saham BBCA telah terkoreksi dalam sebesar 19,81%. Kinerja negatif ini menempatkan BBCA sebagai salah satu penekan utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun berjalan.
Aksi jual masif oleh investor asing menjadi pemicu utama pelemahan tersebut. Dalam kurun waktu sebulan terakhir hingga 20 April, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (*net sell*) mencapai Rp 3,5 triliun pada saham BBCA.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengungkapkan bahwa keluarnya dana asing dipicu oleh perubahan *outlook* dari lembaga pemeringkat Fitch, dari stabil menjadi negatif. Selain sentimen eksternal, lambatnya transmisi kebijakan moneter juga dinilai menghambat laju kinerja sektor perbankan, termasuk BBCA.
Di tengah tekanan pasar, fundamental BCA sebenarnya tetap solid. Secara akumulasi Januari–Februari 2026, laba bersih perusahaan tumbuh 2,81% menjadi Rp 9,22 triliun. Dari sisi operasional, pendapatan bunga bersih (*net interest income*) tumbuh 0,78% menjadi Rp 14,98 triliun, sementara penyaluran kredit meningkat 4,84% secara tahunan menjadi Rp 953,22 triliun.
Kendati kinerja operasional terjaga, analis CGS Internasional Sekuritas, Handy Noverdanius dan Owen Tjandra, telah merevisi turun proyeksi *earning per share* (EPS) BBCA untuk 2025 dan 2026 masing-masing sebesar 2% dan 3%. Penyesuaian ini mengikuti asumsi margin bunga bersih (*net interest margin*/NIM) yang lebih rendah.
Akibat revisi tersebut, target harga saham BBCA berbasis *Gordon Growth Model* (GGM) diturunkan menjadi Rp 10.000 per saham. Namun, para analis tetap memberikan rekomendasi “add” (tambah) dengan keyakinan bahwa kinerja perseroan akan tetap kokoh. Senada dengan itu, Nico juga mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 9.600 per saham.
Ke depan, peluang pemulihan harga saham BBCA masih terbuka lebar. Potensi penguatan diprediksi terjadi apabila *yield* kredit dan permintaan pembiayaan melampaui ekspektasi pasar, didukung oleh perbaikan sentimen ekonomi makro.







