Tutup
EkonomiEnergiNews

Korea Selatan Siapkan Langkah Darurat Hadapi Krisis Energi

81
×

Korea Selatan Siapkan Langkah Darurat Hadapi Krisis Energi

Sebarkan artikel ini
korea-selatan-terancam-‘gelap-gulita’-imbas-perang,-warga-diminta-hemat-listrik-dan-kurangi-berkendara
Korea Selatan Terancam ‘Gelap Gulita’ Imbas Perang, Warga Diminta Hemat Listrik dan Kurangi Berkendara

Jakarta – Korea Selatan mulai bersiap menghadapi kemungkinan terganggunya kehidupan modern di tengah krisis energi global yang dipicu perang antara Iran dan Israel-Amerika Serikat (AS). Negara maju dengan ekonomi terbesar ke-12 di dunia itu dinilai sangat rentan karena bergantung pada impor energi, sementara jalur pasokan utama minyak dan gasnya terganggu akibat konflik di Timur Tengah.

Sekitar 70 persen pasokan minyak mentah Korea Selatan dan 20 persen gas alam cair (LNG) selama ini berasal dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz. Jika jalur itu terganggu, dampaknya bisa besar bagi negara yang memenuhi 90 persen kebutuhan energinya dari impor. Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung bahkan menyebut konflik antara AS dan Iran sebagai situasi yang menyerupai perang bagi rakyat Korea. Dia mengatakan, meskipun selat Hormuz kembali dibuka, pemulihan pasokan energi tidak akan berlangsung cepat.

Pemerintah pun telah menyiapkan dana sebesar 26 triliun won Korea selatan untuk memastikan negaranya menjadi prioritas dalam pengiriman minyak ketika pasokan kembali berjalan normal.

di pusat kota Seoul, kehidupan masih tampak normal dengan jalanan ramai, papan reklame yang terang benderang, dan sekitar 16.000 gedung tinggi tetap menyala.Namun, pemerintah diam-diam mulai menyiapkan langkah darurat.

Salah satu kebijakan yang sudah diterapkan ialah larangan bagi pegawai negeri menggunakan mobil pribadi satu hari kerja setiap minggu. kebijakan ini dilakukan untuk menghemat pasokan bensin,terlebih harga bahan bakar di SPBU sudah melonjak lebih dari 20 persen.

Akibatnya, jutaan warga Seoul kini beralih menggunakan kereta bawah tanah. sejumlah sopir taksi bahkan mengaku mempertimbangkan berhenti bekerja karena biaya bahan bakar yang terus naik menggerus pendapatan mereka.

Tak hanya itu, produk berbahan dasar minyak juga mulai dijatah. Kantong sampah menjadi salah satu barang yang mulai langka. Pemerintah juga meminta masyarakat hanya mengisi daya mobil listrik dan ponsel pada siang hari serta mempertimbangkan mempersingkat waktu mandi agar beban listrik nasional berkurang.

Dalam rencana 12 poin yang dirilis pemerintah, masyarakat juga diminta menjalankan alat elektronik seperti mesin cuci dan vacuum cleaner hanya pada akhir pekan. Bersepeda juga dianjurkan sebagai pengganti kendaraan pribadi.