Regulasi

Sukuk Ritel SR024 Raup Penjualan Rp 17 Triliun dari Investor

144
×

Sukuk Ritel SR024 Raup Penjualan Rp 17 Triliun dari Investor

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Pemerintah mencatatkan penjualan Sukuk Ritel (SR) seri SR024 dengan nilai total mencapai Rp17,48 triliun. Penjualan surat berharga syariah negara (SBSN) ini berlangsung selama periode penawaran 6 Maret hingga 15 April 2026.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, perolehan dana dari penerbitan SR024 akan dialokasikan sepenuhnya untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026.

Penjualan tersebut terbagi dalam dua tenor yakni seri SR024T3 (tenor 3 tahun) sebesar Rp12,14 triliun yang jatuh tempo pada 10 Maret 2029, dan seri SR024T5 (tenor 5 tahun) sebesar Rp5,34 triliun yang akan jatuh tempo pada 10 Maret 2031.

SR024 diterbitkan menggunakan akad Ijarah Asset to be Leased dengan *underlying asset* berupa Barang Milik Negara (BMN) serta proyek APBN 2026. Instrumen ini bersifat *tradable* (dapat diperdagangkan) dengan sistem imbalan tetap (*fixed rate*).

Tingkat imbalan yang ditawarkan adalah 5,55 persen per tahun untuk seri SR024T3 dan 5,90 persen per tahun untuk seri SR024T5.

Secara keseluruhan, SR024 menarik minat 62.231 investor. Angka ini mencakup 44.424 investor untuk seri SR024T3 dan 22.548 investor untuk seri SR024T5. Tercatat pula sebanyak 16.034 investor baru dalam ekosistem SBN Ritel serta 20.297 investor baru di SBSN Ritel.

Profil investor didominasi oleh Generasi Milenial dengan porsi 50,75 persen. Namun, dari sisi volume pemesanan, Generasi X menjadi kontributor terbesar dengan porsi mencapai 42,62 persen.

Berdasarkan profesi, pegawai swasta menjadi kelompok investor terbanyak dengan persentase 34,95 persen, sementara wiraswasta mencatatkan volume pemesanan tertinggi yakni sebesar 29,79 persen. Berdasarkan gender, perempuan mendominasi baik dari jumlah investor (57,16 persen) maupun volume pemesanan (50,64 persen).

Selama masa penawaran berlangsung, terdapat seri SBSN Ritel yang jatuh tempo, yakni SR018T3 senilai Rp16,95 triliun. Menariknya, sebesar 39,88 persen atau Rp6,33 triliun dari nominal yang jatuh tempo tersebut direinvestasikan oleh investor ke dalam seri SR024.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com NEW YORK. Rentetan kemenangan Wall Street selama sembilan minggu berakhir dengan pukulan telak pada hari Jumat (5/6), karena saham teknologi yang sedang naik daun mengalami penurunan harian terbesar sejak April 2025 setelah laporan pekerjaan Mei yang bagus memicu kekhawatiran akan perubahan kebijakan yang agresif dari Federal Reserve AS. Penjualan terkonsentrasi pada saham chip dan saham teknologi favorit lainnya yang telah…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com Indeks utama Wall Street melemah pada perdagangan hari Jumat (5/6/2026). Penurunan ini dipicu oleh saham-saham produsen chip yang mulai kehilangan momentum setelah sempat mengalami reli tajam. Di sisi lain, laporan bulanan lapangan kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat (hawkish). Baca Juga: IHSG Ambruk 4,19% ke 5.594, Cek SumbarSumbarbisnis.com Sell Terbesar Asing Akhir…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan kuat pada perdagangan Rabu (3/6/2026), seiring pelemahan nilai tukar rupiah dan sentimen negatif dari dalam maupun luar negeri. Tekanan jual yang masif juga diwarnai aksi keluar dana asing dalam jumlah besar. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup merosot 4,11% atau turun 254 poin ke level 5.941,06. Sepanjang sesi perdagangan, indeks bergerak…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Tekanan di pasar keuangan domestik masih berlanjut. Nilai tukar rupiah dan pasar saham kompak melemah sepanjang pekan terakhir di tengah meningkatnya ketidakpastian dan sentimen negatif investor terhadap aset Indonesia. Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,86% dalam sepekan hingga menyentuh level Rp 18.036 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada saat yang sama, tekanan juga terjadi di pasar saham….