Regulasi

Meski laba turun di 2025, Sinar Terang Mandiri (MINE) tebar dividen Rp 60,23 miliar

264
×

Meski laba turun di 2025, Sinar Terang Mandiri (MINE) tebar dividen Rp 60,23 miliar

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) resmi memutuskan untuk membagikan dividen tunai kepada para pemegang sahamnya sebesar Rp 60,23 miliar. Keputusan ini ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang berlangsung di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Nilai dividen tersebut setara dengan Rp 14,75 per saham atau 30% dari total laba bersih perseroan sepanjang tahun buku 2025.

Direktur Utama MINE, Ivo Wangarry, menyatakan bahwa pembagian dividen ini merupakan bentuk apresiasi perusahaan terhadap kepercayaan pemegang saham. Kebijakan ini juga menjadi bukti komitmen perseroan dalam menjaga keseimbangan antara pemberian nilai tambah bagi investor dan penguatan fundamental bisnis pasca-IPO.

Sepanjang 2025, MINE mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 11,8% menjadi Rp 2,36 triliun. Kenaikan tersebut didorong oleh kontribusi dari dua proyek baru, yakni pembangunan jalan dari PT Erabaru Timur Lestari dan proyek penambangan milik PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM).

Kendati pendapatan meningkat, laba bersih perseroan justru terkoreksi 34% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 202,02 miliar, dibandingkan perolehan tahun 2024 yang mencapai Rp 306,14 miliar.

Chief Financial Officer MINE, Holmes Siringoringo, menjelaskan bahwa penurunan laba tersebut disebabkan oleh fase ekspansi bisnis yang dilakukan perusahaan sepanjang 2025.

“Laba bersih memang terlihat turun 34% karena kami dalam fase ekspansi untuk dua proyek baru,” ujar Holmes.

Ia menambahkan, kedua proyek tersebut baru beroperasi pada kuartal II dan kuartal III 2025. Akibatnya, proyek-proyek itu belum memberikan kontribusi maksimal terhadap pendapatan, sementara biaya operasional sudah mulai berjalan.

Holmes menegaskan bahwa kondisi ini hanya dipicu oleh masalah perbedaan waktu (timing gap). Pihaknya optimistis kontribusi dari ekspansi tersebut akan berjalan penuh dan berdampak positif bagi kinerja keuangan perseroan pada tahun ini.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Tekanan di pasar keuangan domestik masih membayangi kinerja industri reksadana. Di tengah pelemahan pasar saham dan meningkatnya volatilitas nilai tukar rupiah, manajer investasi memilih memperkuat kualitas portofolio melalui seleksi emiten berbasis fundamental guna menjaga kinerja reksadana saham hingga kuartal III 2026. Baca Juga: Rupiah Masih Rentan, Berisiko Tembus Rp 19.000 per Dolar AS di Akhir Juni 2026 Berdasarkan…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Pasar keuangan domestik saat ini masih menghadapi tekanan yang cukup besar. Di pasar saham, misalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot sekitar 35,3% sejak awal tahun 2026 ke level 5.594,76. Tekanan juga terjadi di pasar keuangan secara lebih luas seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang kini berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS. Dalam situasi yang penuh tantangan seperti saat ini, investor tampaknya…