Tutup
Regulasi

Kementerian ESDM Uji Coba Penggunaan Bahan Bakar B50 pada Kereta Api

80
×

Kementerian ESDM Uji Coba Penggunaan Bahan Bakar B50 pada Kereta Api

Sebarkan artikel ini

YOGYAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi memulai uji coba penggunaan bahan bakar biodiesel B50 pada mesin diesel kereta api. Pengujian ini dipusatkan di Pusat Uji Kelaikan Lempuyangan, Kota Yogyakarta, sebagai langkah strategis menuju penerapan B50 secara nasional.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Alistiani Dewi, menjelaskan bahwa pengujian dilakukan dalam dua skema utama. Pertama, uji penggunaan pada genset kereta api dengan target durasi mencapai 2.400 jam. Kedua, uji coba pada lokomotif kereta api rute Surabaya-Jakarta yang akan berlangsung selama enam bulan.

“Kami melaksanakan uji pada kondisi sesungguhnya untuk melihat performa mesin. Seluruh rangkaian uji ini ditargetkan selesai pada Oktober 2026 sebagai persiapan implementasi penuh B50 mulai 1 Juli 2026,” ujar Eniya, Senin (27/4/2026).

B50 merupakan campuran bahan bakar minyak solar dengan 50 persen bahan bakar nabati jenis biodiesel. Indonesia menjadi pelopor utama pengembangan B50 di dunia. Eniya menambahkan, keberhasilan program ini menjadi kebanggaan nasional karena belum ada rujukan teknis serupa di negara lain.

Sejak 9 Desember 2025, pemerintah telah melakukan serangkaian uji teknis laboratorium dan *real condition* pada berbagai sektor, mulai dari otomotif, pertambangan, alat pertanian, hingga perkapalan. Khusus untuk sektor kereta api, pengujian baru dimulai setelah masa libur Lebaran selesai.

Dalam pelaksanaannya, Kementerian ESDM juga memastikan spesifikasi *Fatty Acid Methyl Ester* (FAME) yang dicampur ke dalam solar terus ditingkatkan standar kualitasnya bekerja sama dengan Pertamina Patra Niaga.

Menanggapi program tersebut, Direktur Pengelola Sarana Prasarana PT KAI, Heru Kuswanto, menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif transisi energi ini. PT KAI telah menyiapkan Kereta Api Bogowonto sebagai sarana uji coba.

“Tujuan utama B50 adalah memperkuat ketahanan energi nasional dan mewujudkan energi hijau yang berkelanjutan. Kami akan berkolaborasi dengan Kementerian ESDM dan Lemigas untuk mengevaluasi performa mesin lokomotif serta genset, baik saat beban tinggi menggunakan B50 maupun B30,” jelas Heru.

Heru menekankan bahwa prioritas utama PT KAI dalam uji coba ini adalah menjaga keselamatan, keamanan, dan keandalan sarana perkeretaapian. Ia berharap penerapan bahan bakar ramah lingkungan ini dapat memberikan manfaat optimal bagi industri transportasi nasional sekaligus mendukung kemandirian energi dan pengurangan emisi karbon.