Tutup
NewsPendidikan

Mahyeldi Dorong Pendidikan Keluarga Hidupkan Nilai Rahmah

56
×

Mahyeldi Dorong Pendidikan Keluarga Hidupkan Nilai Rahmah

Sebarkan artikel ini
seminar-nasional-rahmah-el-yunusiyyah,-gubernur-mahyeldi-:-penting-menghidupkan-kembali-nilai-pendidikan-berbasis-keluarga
Seminar Nasional Rahmah El Yunusiyyah, Gubernur Mahyeldi : Penting Menghidupkan Kembali Nilai Pendidikan Berbasis Keluarga

Padang – Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah meminta pendidikan keluarga kembali dijadikan fondasi utama pembinaan generasi. Seruan itu ia sampaikan saat membuka Seminar Nasional “Kiprah Rahmah El Yunusiyyah sebagai Pahlawan Nasional dalam pengembangan Pendidikan di Indonesia” di Auditorium Universitas Negeri Padang, Senin (4/5/2026).

Di hadapan sekitar 1.000 peserta yang terdiri dari akademisi, mahasiswa, guru, dan organisasi perempuan, Mahyeldi menegaskan forum tersebut tidak semestinya berhenti pada peringatan seremonial.Ia menilai pemikiran Rahmah El Yunusiyyah justru menawarkan jawaban atas persoalan pendidikan yang makin kompleks.

“Seminar ini kita gagas bukan hanya untuk mengenang sejarah. Nilai-nilai yang diajarkan ibu Rahmah El Yunusiyyah sangat realistis untuk menjawab persoalan pendidikan terkini, sehingga perlu kembali diimplementasikan dalam proses pembelajaran saat ini,” ujar Mahyeldi.

Ia menyoroti hubungan guru dan murid yang menurutnya kian sering memanas. Dalam beberapa kasus, persoalan di ruang kelas bahkan berujung ke ranah hukum.

“Kita melihat sekarang hubungan guru dan murid tidak jarang mengalami gesekan yang tidak sepatutnya. Bahkan ada yang sampai dilaporkan ke kepolisian. Ini sudah keluar dari ruh pendidikan,” katanya.

Mahyeldi juga mengaitkan berbagai problem sosial, termasuk narkoba dan perilaku menyimpang, dengan rapuhnya ketahanan keluarga. Menurut dia, Sumbar sebenarnya sudah memiliki aturan daerah tentang ketahanan keluarga, tetapi penerapannya belum berjalan optimal.

“Kita bicara narkoba,kembali permasalahan dasarnya ada di tingkat keluarga. Perilaku menyimpang juga kembali ke keluarga. Tapi ironisnya, setiap orang yang akan berkeluarga justru tidak dibekali secara serius tentang ketahanan keluarga,” ucapnya.

Ia kemudian mencontohkan model pendidikan di Diniyyah Puteri yang dibangun Rahmah El Yunusiyyah. Sejak dini, para siswi sudah mendapat bekal tentang kehidupan rumah tangga, agama, etika bertutur, logika, hingga disiplin ilmu lain yang menunjang kehidupan.

“Saya pernah tanya alumni Diniyyah Puteri, ternyata pelajaran tentang ketahanan keluarga itu sudah diajarkan sejak SMP. Sementara kita, menjelang menikah hanya dapat pembekalan dua jam. Ini tentu tidak cukup,” kata Mahyeldi.

Menurutnya, pola pendidikan itu melahirkan perempuan yang tangguh sekaligus berdaya. Dari lingkungan tersebut, lahir pula tokoh nasional seperti Rasuna Said.

“Beliau mempersiapkan perempuan bukan hanya untuk rumah tangga, tapi juga menjadi pribadi mandiri dan berwawasan luas. Hasilnya, bisa kita lihat, banyak tokoh-tokoh besar lahir dari sana,” tuturnya.Dari sisi pemerintah pusat, direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI Feri Arlius menyebut Rahmah El Yunusiyyah sebagai pelopor pendidikan perempuan di Indonesia yang gagasannya masih sangat relevan.Ia menilai Rahmah adalah arsitek pendidikan perempuan pertama di Tanah Air melalui Diniyyah Puteri.

“Di tengah keterbatasan akses pendidikan saat itu, beliau membuka jalan bagi kemandirian intelektual dan spiritual perempuan,” ujar Feri.

Ia menambahkan, pemerintah memberi perhatian terhadap pengembangan Diniyyah Puteri sebagai bagian dari warisan budaya dan sejarah pendidikan nasional. Dukungan untuk lembaga itu, kata dia, masih dalam tahap pembahasan.

“Keberadaan Diniyyah Puteri masih sangat relevan. Kementerian Kebudayaan akan memberikan dukungan,yang saat ini masih dalam tahap pembahasan,” ujarnya.

Kepala Dinas Sosial Sumbar Syaifullah selaku ketua pelaksana mengatakan seminar tersebut dirancang untuk menggali kembali pemikiran Rahmah El Yunusiyyah dalam konteks tantangan pendidikan modern. Ia berharap forum itu melahirkan gagasan baru dan menginspirasi generasi muda, terutama perempuan.

“Seminar ini diharapkan melahirkan gagasan baru serta menginspirasi generasi muda, khususnya perempuan, untuk meneladani perjuangan beliau,” katanya.Sejumlah narasumber nasional dan internasional turut hadir, di antaranya Tan sri Dato’ Seri Utama Dr. Rais Yatim, Prof. Dr. dr. Fasli Jalal, Ph.D., dan wartawan senior Khairul Jasmi.