Jakarta – kekhawatiran publik terhadap keamanan galon guna ulang berbahan polikarbonat kembali mencuat seiring sorotan pada kandungan Bisphenol A atau BPA di kemasan air minum. Di tengah konsumen yang makin memperhatikan isi dan bahan produk harian, keberadaan galon berbahan BPA kembali dipersoalkan.
Selama ini, polikarbonat menjadi bahan utama yang banyak digunakan industri air minum dalam kemasan di Indonesia. material itu dipilih karena dinilai kuat, transparan, dan efektif untuk sistem pakai ulang.
namun, bahan tersebut menyisakan isu kesehatan.BPA yang terkandung di dalam polikarbonat berpotensi berpindah ke air minum, terutama jika galon terpapar panas, terkena sinar matahari, sering dicuci, atau digunakan dalam jangka waktu lama.
Sejumlah kajian internasional turut menyoroti paparan BPA berlebih yang dikaitkan dengan gangguan hormon, obesitas, diabetes, hingga persoalan reproduksi. Meski tingkat risikonya masih diperdebatkan di beberapa negara, arah kebijakan global disebut semakin condong pada kemasan bebas BPA.
Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI), David Tobing, mengatakan konsumen kini jauh lebih peka terhadap bahan kemasan yang bersentuhan langsung dengan produk yang mereka konsumsi setiap hari. menurut dia, publik mulai mempertanyakan alasan galon berbahan BPA masih beredar ketika opsi lain sudah tersedia.
“Kalau harganya sama,konsumen merasa seharusnya mendapatkan standar keamanan yang sama juga,” kata David,dikutip Rabu,13 Mei 2026.
KKI juga menerima laporan soal kondisi fisik galon yang beredar di lapangan. Banyak konsumen, kata David, mengeluhkan galon yang tampak kusam, penuh goresan, bahkan mengalami retak halus akibat pemakaian berulang.
Ia menilai temuan itu tidak bisa dianggap remeh karena menyangkut keamanan kemasan pangan. Karena itu, pengawasan terhadap batas usia pakai galon guna ulang perlu diperketat.
Sejumlah pakar polimer sebelumnya mengingatkan bahwa galon polikarbonat memang memiliki masa pakai ideal. Paparan panas tinggi, distribusi yang kurang tepat, dan pencucian berulang dapat mempercepat kerusakan material plastik.
Di saat yang sama, sebagian produsen mulai menawarkan galon berbahan PET sebagai pilihan lain. Material ini tidak memakai BPA dalam proses pembuatannya dan selama ini dikenal memiliki potensi migrasi zat kimia yang lebih rendah.







