Jakarta – Vladimir Putin kembali memamerkan kemampuan militer rusia dengan menyatakan moskow telah menguji rudal balistik antarbenua Sarmat, senjata nuklir yang di Barat dijuluki Setan II. Rudal ini disiapkan untuk menggantikan Voyevoda, ICBM warisan era Uni Soviet yang dinilai sudah menua.
Putin mengklaim Sarmat memiliki daya rusak yang jauh di atas rudal sekelas milik negara-negara Barat. Ia menyebut total kekuatan hulu ledak yang bisa dipasang secara terpisah pada sistem itu lebih dari empat kali lipat dibandingkan senjata sejenis buatan Barat.
Pengembangan Sarmat dimulai pada 2011 sebagai bagian dari program persenjataan baru Rusia. Namun, pengumuman keberhasilan uji coba ini bukan yang pertama. Pada April 2022, Putin juga pernah menyampaikan klaim serupa.
Meski begitu, riwayat pengujian Sarmat belum sepenuhnya meyakinkan. Dari lima percobaan yang diketahui,hanya satu yang berakhir sukses. Pada 2024, rudal itu dilaporkan meledak besar saat menjalani uji coba yang gagal.
Pusat Studi Strategis dan Internasional Amerika Serikat melalui Proyek Pertahanan Rudal menggolongkan Sarmat sebagai ICBM kelas berat dengan kemampuan membawa muatan hingga 10 ton. Putin juga mengatakan rudal itu mampu terbang secara suborbital, sehingga jangkauannya disebut melampaui 21.700 mil dan lebih sulit dicegat sistem pertahanan lawan.
Di luar sarmat, Rusia juga terus menggarap sejumlah senjata strategis lain. Salah satunya kendaraan luncur hipersonik Avangard, yang diklaim bisa melaju 27 kali kecepatan suara.Sebelumnya, pejabat Dewan Keamanan Rusia Vyacheslav Volodin pernah menyebut Sarmat mampu menghantam Gedung parlemen Uni Eropa di Strasbourg, Prancis, dalam waktu kurang dari empat menit. Pernyataan itu ikut menambah perhatian publik terhadap program senjata terbaru Moskow.
Waktu pengumuman putin juga memicu spekulasi. Sejumlah pihak menduga langkah itu berkaitan dengan kunjungan kenegaraan Presiden AS Donald Trump ke China pekan ini, di tengah desakan domestik agar Kremlin segera mengakhiri perang di Ukraina.Dalam kesempatan yang sama, Putin mengatakan rusia sudah memasuki tahap akhir pengembangan drone bawah air poseidon yang dipersenjatai nuklir serta rudal jelajah Burevestnik yang ditenagai reaktor atom mini. Poseidon disebut dirancang untuk meledak dekat pantai musuh dan memicu tsunami radioaktif.
Adapun Burevestnik diklaim memiliki jangkauan nyaris tanpa batas karena mengandalkan tenaga nuklir.Rudal jelajah itu disebut dapat berpatroli selama berhari-hari, lolos dari pertahanan udara, lalu melancarkan serangan dari arah yang tak terduga.







