JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali mencatatkan pelemahan pada penutupan perdagangan hari ini. Mata uang Garuda turun 35 poin atau 0,20 persen ke level Rp17.881 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.846 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut pelemahan ini dipicu oleh tingginya volatilitas harga minyak dunia. Pasar saat ini merespons beragam berita terkait negosiasi gencatan senjata di Timur Tengah yang masih belum memberikan kepastian.
“Harga minyak tetap sangat fluktuatif karena pasar bereaksi terhadap berita yang saling bertentangan seputar negosiasi gencatan senjata,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Jumat.
Sentimen global juga diperparah oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS), yakni inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang tidak sesuai ekspektasi. Hal ini memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS, The Fed, akan menahan suku bunga di level tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Kondisi tersebut mendorong terjadinya arus modal keluar (*capital outflow*) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor cenderung memindahkan aset mereka ke instrumen berisiko rendah di AS, seperti obligasi, yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Sejalan dengan pergerakan di pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga melemah ke level Rp17.883 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.789 per dolar AS.
Peluang Rupiah Menguat
Meski saat ini tertekan, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, melihat adanya peluang bagi rupiah untuk kembali menguat (*rebound*) ke kisaran Rp16.800 hingga Rp17.200 per dolar AS pada semester II 2026.
Menurut Rahma, titik balik rupiah sangat bergantung pada meredanya variabel eksternal. Jika data ekonomi AS menunjukkan pendinginan signifikan—seperti angka pengangguran yang naik dan inflasi di bawah 3 persen—pasar diprediksi akan kembali melirik obligasi Indonesia (SBN).
“Jika inflasi AS melandai, pasar akan kembali bertaruh pada pemangkasan bunga. Ini akan berdampak pada penurunan *yield Treasury* AS sehingga aliran modal kembali masuk ke Indonesia,” jelas Rahma.
Selain itu, Bank Indonesia terus memperkuat instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik investor asing. Dengan imbal hasil di atas 7,3 hingga 7,5 persen, instrumen ini dinilai mampu menciptakan pasokan dolar baru di pasar domestik.
Secara musiman, tekanan terhadap rupiah biasanya meningkat pada kuartal II akibat aktivitas repatriasi dividen oleh korporasi asing. Namun, memasuki Juli dan Agustus, tekanan tersebut diperkirakan mereda.
Rahma menambahkan, stabilitas harga minyak dunia yang turun ke kisaran 75 hingga 80 dolar AS per barel juga akan membantu neraca perdagangan Indonesia. Namun, ia menekankan bahwa efektivitas kebijakan moneter maupun administratif, seperti aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE), akan sangat bergantung pada respons dan psikologi pasar ke depan.







