JAKARTA – Harga emas dunia mulai menunjukkan sinyal pemulihan setelah mengalami tekanan selama sebulan terakhir. Meski tren harga kembali bergerak positif, investor ritel diimbau untuk tetap waspada terhadap lebar selisih (*spread*) antara harga jual dan harga beli kembali (*buyback*) yang dapat memengaruhi keuntungan investasi jangka pendek.
Berdasarkan data Trading Economics, harga emas spot naik 0,96% secara harian menjadi US$ 4.538 per ons troi. Kendati demikian, dalam akumulasi sebulan terakhir, harga emas dunia masih terkoreksi sebesar 2,13%.
Di pasar domestik, tren penguatan harga emas batangan terlihat pada perdagangan Jumat (29/5). Harga emas ANTAM, misalnya, naik Rp 20.000 menjadi Rp 2.774.000 per gram. Dengan harga *buyback* di level Rp 2.579.000, terdapat selisih harga sebesar Rp 195.000 atau sekitar 7,03%.
Kondisi serupa terjadi pada produk emas lainnya. Emas Galeri 24 mencatatkan *spread* sekitar 6,20%, sementara emas UBS memiliki selisih mencapai 8,89%. Emas Pegadaian dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) masing-masing mencatatkan *spread* yang lebih moderat, yakni 4,02% dan 4,80%.
Founder Traderindo, Wahyu Laksono, menilai *spread* yang cukup lebar pada emas fisik membuat instrumen ini kurang ideal untuk perdagangan jangka pendek. Biaya cetak, sertifikasi, keamanan fisik, hingga margin industri menjadi faktor utama tingginya selisih harga tersebut.
Menurutnya, agar investor dapat merealisasikan keuntungan, kenaikan harga emas global harus mampu melampaui besaran *spread* yang ada. Oleh karena itu, investasi emas batangan paling tepat dilakukan untuk jangka panjang, yakni minimal tiga hingga lima tahun.
Meskipun memiliki *spread* lebar, emas batangan tetap menjadi instrumen lindung nilai (*hedging*) yang efektif terhadap inflasi dan depresiasi nilai tukar rupiah. Selain itu, emas fisik memberikan keunggulan berupa kepemilikan aset yang tidak bergantung pada stabilitas sistem keuangan tertentu.
Bagi investor yang mengutamakan fleksibilitas, Wahyu menyoroti potensi emas digital sebagai alternatif yang lebih menarik. *Spread* pada emas digital umumnya lebih rendah, yakni di kisaran di bawah 3% hingga 5%, sehingga memudahkan investor mencapai titik impas (*break even point*) lebih cepat.
Selain efisiensi biaya, emas digital memungkinkan transaksi secara *real-time* melalui aplikasi dan mempermudah penerapan strategi *dollar cost averaging* atau investasi rutin secara bertahap. Keunggulan lainnya adalah meminimalisir biaya serta risiko penyimpanan fisik.
Kendati demikian, bagi calon investor yang tertarik pada emas digital, disarankan untuk selalu memastikan platform yang digunakan telah memiliki regulasi resmi dan terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).







