JAKARTA – Induk usaha Google, Alphabet Inc., bersiap menggalang dana sebesar US$80 miliar atau setara dengan Rp1.424 triliun. Dana jumbo tersebut akan difokuskan untuk memperkuat infrastruktur kecerdasan buatan (AI) guna memenuhi lonjakan permintaan layanan komputasi global.
Sebagai langkah awal, perusahaan investasi milik Warren Buffett, Berkshire Hathaway, telah menyepakati pembelian saham baru Alphabet senilai US$10 miliar atau sekitar Rp178 triliun.
Alphabet menjelaskan bahwa langkah penerbitan saham ini diambil untuk mendukung belanja modal perusahaan secara berkelanjutan. Investasi besar ini diperlukan mengingat permintaan korporasi dan konsumen terhadap solusi AI saat ini telah melampaui kapasitas penyediaan infrastruktur yang dimiliki perusahaan.
CEO Google, Sundar Pichai, mengungkapkan bahwa perusahaan memproyeksikan belanja modal (capex) tahun ini mencapai US$180 miliar hingga US$190 miliar atau sekitar Rp3.204 triliun hingga Rp3.382 triliun. Angka tersebut mencerminkan betapa agresifnya Alphabet dalam meningkatkan kapasitas komputasi guna bersaing dengan kompetitor utama seperti Microsoft, Amazon Web Services (AWS), dan Meta Platforms.
Persaingan di sektor *hyperscaler* memang semakin ketat. Keempat raksasa teknologi tersebut diprediksi akan menghabiskan lebih dari US$700 miliar atau sekitar Rp12.460 triliun sepanjang tahun ini khusus untuk pembangunan infrastruktur AI. Bagi Pichai, tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar modal, melainkan ketersediaan sumber daya seperti pasokan energi dan lahan untuk membangun pusat data berskala besar.
Dalam aksi korporasi kali ini, Alphabet menunjuk Goldman Sachs, JPMorgan Chase, dan Morgan Stanley sebagai *joint bookrunner*. Goldman Sachs juga akan memfasilitasi *private placement* dengan Berkshire Hathaway.
Berkshire Hathaway sendiri bukan pemain baru bagi Alphabet. Investasi ini kian memperkuat posisi Berkshire sebagai salah satu pemegang saham terbesar perusahaan teknologi tersebut. Sebelumnya, pada akhir tahun 2025, Berkshire telah melakukan investasi awal di Alphabet senilai US$4,3 miliar dan terus meningkatkan kepemilikannya hingga mencapai sekitar US$20 miliar sebelum kesepakatan terbaru ini diumumkan.
Sebelum memilih skema penerbitan saham, Alphabet sebenarnya telah cukup aktif menghimpun dana melalui pasar utang. Sejak akhir tahun lalu, perusahaan tercatat telah menerbitkan obligasi global dalam berbagai mata uang dengan nilai puluhan miliar dolar AS. Namun, penerbitan saham baru dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga neraca keuangan perusahaan tetap sehat di tengah ambisi ekspansi AI yang masif.







