BOGOR – Kenaikan harga bahan pangan pokok kini mulai mengubah pola konsumsi masyarakat di warung makan skala kecil. Fenomena ini terlihat jelas dari etalase warung tegal (warteg) dan rumah makan yang kini lebih cepat kehabisan menu sayuran, sementara lauk hewani seperti daging ayam dan telur justru sering tersisa hingga sore hari.
Perubahan pola belanja ini menjadi indikator nyata adanya tekanan terhadap daya beli masyarakat. Pelaku usaha kuliner pun merasakan dampak langsung dari tren tersebut, yang tercermin dari menyusutnya omzet harian secara signifikan.
Ramdanti (53), pengelola warteg di kawasan Sukahati, Cibinong, mengaku harus memutar otak menghadapi kondisi ini. Jika dua tahun lalu ia bisa menjual 50 potong ayam per hari, kini ia hanya berani menyediakan maksimal 25 potong, itu pun sering kali tidak habis terjual.
“Lauk yang paling dicari sekarang adalah sayur tumis atau ikan karena harganya lebih terjangkau. Daging-dagingan justru jarang diminati dan sering sisa,” ujar Ramdanti.
Situasi serupa terjadi di jantung Ibu Kota. Muhammad Fajri (37), pengelola Rumah Makan Padang Basalero di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menyebutkan bahwa laba usahanya terus tergerus. Meski lokasinya dikelilingi gedung kementerian dan kantor pemerintah, omzet harian warungnya merosot drastis dari Rp5 juta menjadi rata-rata Rp1,3 juta hingga Rp2 juta per hari.
Fajri terpaksa melakukan efisiensi besar-besaran, mulai dari memangkas jumlah produksi ayam dari 50 ekor menjadi 10 ekor per hari, hingga mengurangi jumlah karyawan dari lima orang menjadi tiga orang. Langkah ini diambil karena ia tidak berani menaikkan harga jual demi mempertahankan pelanggan.
“Harga bahan baku naik, tapi daya beli pengunjung justru turun. Kalau harga kita naikkan, pelanggan bisa pindah, jadi margin keuntungan semakin tipis dan sering kali tidak menutup biaya modal,” jelas Fajri.
Tingginya biaya operasional diperburuk dengan lonjakan harga kebutuhan pokok, terutama minyak goreng. Data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan mencatat, harga minyak goreng kemasan premium maupun curah mengalami kenaikan yang konsisten dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi lain, konsumen mulai menerapkan strategi penghematan yang lebih ketat. Satya (32), seorang pekerja kantoran di Jakarta Selatan, mengaku harus mengatur ulang prioritas pengeluarannya. Kenaikan biaya transportasi harian, sewa hunian, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya memaksa dirinya mengurangi porsi makan mewah.
“Pengeluaran transportasi dan kebutuhan lain naik drastis. Akibatnya, saya harus menyesuaikan anggaran makan. Kalau dulu bisa beli dua lauk daging, sekarang cukup satu lauk saja atau pilih tahu dan tempe. Prioritasnya sekarang yang penting gaji cukup sampai akhir bulan,” tutur Satya.
Kondisi ini menciptakan dilema bagi pelaku usaha kuliner. Di satu sisi, mereka terjepit kenaikan biaya produksi, namun di sisi lain, mereka tidak memiliki ruang untuk menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan yang juga tengah berjuang menjaga arus kas rumah tangga mereka.







