NEW YORK – Tren positif Wall Street yang bertahan selama sembilan pekan akhirnya terhenti dengan koreksi tajam pada perdagangan Jumat (5/6). Saham sektor teknologi dan semikonduktor memimpin penurunan harian terdalam sejak April 2025, dipicu oleh laporan data tenaga kerja AS yang jauh melampaui ekspektasi.
Laporan ketenagakerjaan yang menunjukkan penambahan 172.000 pekerjaan pada bulan Mei membuat pelaku pasar khawatir. Data ekonomi yang solid ini justru memicu kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mengambil kebijakan moneter yang lebih agresif, termasuk menunda pemotongan suku bunga di sisa tahun ini.
Indeks Nasdaq Composite mencatatkan penurunan satu hari terburuknya dalam beberapa tahun terakhir, sementara Indeks Semikonduktor Philadelphia SE mengalami anjlok harian terbesar sejak Maret 2020. Aksi jual ini menghapus nilai pasar saham lebih dari US$1 triliun.
Ryan Detrick, kepala strategi pasar di Carson Group, menilai pasar bereaksi keras karena saham teknologi telah mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Menurutnya, laporan tenaga kerja yang kuat menempatkan The Fed dalam posisi sulit, sehingga investor merespons dengan aksi ambil untung pada sektor yang sebelumnya mencatatkan performa terbaik.
Meski terjadi koreksi, beberapa analis melihat aksi jual ini lebih didorong oleh kondisi pasar yang sudah jenuh beli (*overbought*) dibandingkan perubahan fundamental perusahaan. Ohsung Kwon dari Wells Fargo optimistis bahwa tren *bullish* di sektor semikonduktor belum sepenuhnya berakhir.
Selain sentimen suku bunga, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk suasana pasar. Harapan akan segera berakhirnya konflik di kawasan tersebut memudar, memicu kekhawatiran bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat memicu tekanan inflasi energi yang lebih luas.
Secara teknis, Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 1,35% ke level 50.866,78. Indeks S&P 500 merosot 2,64% menjadi 7.383,74, sementara Nasdaq Composite jatuh 4,18% ke posisi 25.709,43.
Sektor teknologi menjadi penekan utama dengan penurunan 5,8%. Raksasa chip seperti Nvidia anjlok 6,2%, sementara Intel, Micron, AMD, dan Broadcom merosot tajam di rentang 7,9% hingga 13,3%. Selain sektor teknologi, saham Lululemon Athletica juga terpuruk 8,6% setelah perusahaan memangkas proyeksi laba tahunan mereka.
Di sisi lain, produsen lensa kontak Cooper Companies menjadi salah satu saham yang mampu bertahan dengan kenaikan 8,6% berkat hasil kinerja kuartalan yang melampaui estimasi analis.
Volume perdagangan di bursa AS mencapai 22,89 miliar saham, di atas rata-rata 20 hari perdagangan terakhir. Kondisi pasar saat ini mencerminkan tingginya volatilitas seiring dengan ketidakpastian kebijakan ekonomi global dan tensi geopolitik yang terus berlanjut.







