JAKARTA – Pasar keuangan Indonesia tengah berada dalam fase kritis seiring dengan fenomena “Sell Indonesia” yang memicu tekanan berat pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah. Hingga pertengahan 2026, kinerja pasar modal domestik tercatat sebagai yang terburuk di dunia, dengan koreksi IHSG mencapai 33,54% secara tahun berjalan (ytd), jauh tertinggal dibandingkan bursa regional dan global lainnya.
Meskipun IHSG sempat mencatatkan rebound sebesar 7,57% ke level 5.746,65 pada Selasa (9/6), penguatan tersebut belum mampu menutupi kerugian signifikan yang terjadi sejak awal tahun. Sebelum pemulihan teknikal tersebut, indeks sempat terperosok ke kisaran 5.300 atau kehilangan hampir 40% dari nilai puncaknya. Data Bursa Efek Indonesia menempatkan performa IHSG di urutan ke-35 dari 35 negara yang dipantau secara global, serta posisi paling buncit di antara bursa utama Asia Tenggara dan Asia Pasifik.
Tekanan serupa menghantam nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga mendekati level Rp 18.200 per dolar AS. Pelemahan simultan pada pasar saham dan mata uang ini menjadi indikator kuat adanya proses repricing risk atau penyesuaian ulang premi risiko Indonesia oleh investor global.
Arus modal keluar menjadi bukti nyata dari perubahan persepsi tersebut. Investor asing mencatatkan nilai jual bersih (net sell) di pasar reguler melampaui Rp 70 triliun sejak awal tahun. Angka ini merupakan rekor tertinggi dalam sejarah pasar modal Indonesia, melampaui total net sell sepanjang tahun 2023 yang mencapai Rp 50 triliun.
Analis pasar modal menyoroti bahwa faktor domestik menjadi pemicu utama di balik sentimen negatif ini. Meskipun faktor eksternal seperti kenaikan imbal hasil obligasi AS dan ketegangan geopolitik turut berperan, investor saat ini lebih mencemaskan masalah kredibilitas kebijakan ekonomi, keberlanjutan fiskal, dan konsistensi regulasi pemerintah.
Kritik tajam tertuju pada program-program populis yang dinilai membebani anggaran negara tanpa memberikan dampak ekonomi yang sebanding. Kekhawatiran pasar semakin meningkat seiring dengan potensi pelebaran defisit APBN yang diproyeksikan dapat menembus batas 3% terhadap PDB jika penerimaan pajak tertekan oleh perlambatan ekonomi dan gelombang pemutusan hubungan kerja.
Di sisi lain, pemerintah melalui otoritas keuangan tetap menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih dalam koridor aman. Defisit APBN diklaim berada di bawah ambang batas 3%, sehingga belum menunjukkan tanda-tanda krisis fiskal secara formal. Namun, pasar keuangan yang sangat sensitif terhadap sinyal kebijakan terus merespons dengan sikap defensif.
Pemulihan kepercayaan pasar dinilai memerlukan langkah konkret, mulai dari efisiensi belanja negara, kepastian hukum, hingga transparansi tata kelola pasar modal. Tanpa perbaikan fundamental dan komunikasi kebijakan yang konsisten, tekanan terhadap pasar keuangan diperkirakan akan terus berlanjut. Para analis memproyeksikan proses pemulihan kepercayaan investor global akan memakan waktu lama, mengingat arus modal keluar yang terjadi saat ini mencerminkan keraguan mendalam terhadap arah kebijakan ekonomi jangka panjang di Indonesia.







