Valuta

Rupiah Tembus Rp18.014 per Dolar AS Akibat Defisit dan Gejolak Geopolitik

51
×

Rupiah Tembus Rp18.014 per Dolar AS Akibat Defisit dan Gejolak Geopolitik

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) secara resmi menembus level psikologis Rp 18.000 pada penutupan perdagangan Rabu (8/7/2026). Mata uang Garuda ditutup di level Rp 18.014 per dolar AS atau melemah sebesar 0,19% dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.980.

Data Bloomberg menunjukkan pergerakan rupiah sempat menyentuh level intraday tertinggi di angka Rp 18.018 per dolar AS. Pelemahan ini juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, yang mencatatkan depresiasi harian sebesar 0,94% ke posisi Rp 18.005 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal. Dari sisi domestik, kondisi fiskal menjadi sorotan utama menyusul laporan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semester I-2026 yang mencapai Rp 196,5 triliun.

Defisit tersebut setara dengan 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Realisasi pendapatan negara tercatat sebesar Rp 1.459,4 triliun, sementara belanja negara membengkak hingga mencapai Rp 1.656 triliun.

Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai memperburuk kondisi fiskal dengan mendorong kenaikan belanja negara lebih cepat dibandingkan penerimaan. Fenomena ini secara sistematis mempersempit ruang gerak fiskal pemerintah di tengah tantangan ekonomi yang dinamis.

Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa per akhir Juni 2026 berada di angka US$ 145,6 miliar. Angka ini meningkat tipis dari posisi Mei 2026 yang sebesar US$ 144,9 miliar, namun dinilai belum cukup kuat untuk menopang stabilitas mata uang.

Sentimen pasar global turut diperburuk oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran memicu kekhawatiran pelaku pasar akan terjadinya gangguan pada rantai pasok energi global.

Kekhawatiran ini semakin tajam setelah muncul laporan serangan terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Hal tersebut memicu perilaku penghindaran risiko di kalangan investor global.

Di pasar obligasi, imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun naik 5,5 basis poin menjadi 4,525%. Kenaikan ini meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS dibandingkan aset di pasar negara berkembang.

Probabilitas kenaikan suku bunga acuan The Fed pada September mendatang kini tercatat mendekati 60% berdasarkan CME FedWatch Tool. Kondisi ini membuat dolar AS terus berada dalam posisi menguat terhadap mata uang utama dunia lainnya.

Pelaku pasar kini menantikan risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan dirilis pada Kamis (9/7/2026) dini hari. Investor berharap notulen tersebut memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter di bawah kepemimpinan Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh.

Untuk perdagangan Kamis (9/7/2026), nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif di rentang Rp 18.010 hingga Rp 18.060 per dolar AS. Pasar akan terus memantau perkembangan geopolitik dan sinyal kebijakan dari otoritas moneter AS.

Rupiah Loyo Lawan Dolar Amerika Serikat Pada Perdagangan Waktu Waktu Pagi Hal ini
Investasi

Hasil Rapat BI hari ini akan dirilis, mempengaruhi nilai tukar rupiah. Saat ini, rupiah melemah terhadap dolar AS sebesar 0,1% menjadi Rp15.345 per USD.