JAKARTA – PT ASABRI (Persero) memproyeksikan kinerja investasi perusahaan akan menghadapi tekanan signifikan pada 2026 akibat volatilitas pasar modal yang terus berlanjut. Kondisi ekonomi makro, termasuk fluktuasi suku bunga dan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), menjadi faktor utama yang menekan nilai aset keuangan perseroan.
Direktur Utama ASABRI, Jeffry Haryadi, mengungkapkan potensi penurunan hasil investasi bersih sebesar Rp 387 miliar atau sekitar 39 persen pada 2026. Proyeksi tersebut menempatkan hasil investasi bersih perusahaan dari Rp 985 miliar pada 2025 menjadi Rp 598 miliar pada 2026.
Jeffry menjelaskan bahwa penurunan nilai ini bukan disebabkan oleh kerugian akibat pelepasan aset, melainkan penyesuaian nilai pasar (mark-to-market). IHSG yang sempat menyentuh level 9.000 di awal tahun kini mengalami tekanan hingga ke kisaran 5.600 pada pertengahan tahun, yang berdampak langsung pada portofolio investasi.
Di tengah tekanan tersebut, total aset ASABRI diproyeksikan tetap tumbuh dari Rp 55,97 triliun pada 2025 menjadi Rp 59,49 triliun pada 2026. Namun, yield on investment (YOI) diperkirakan terkoreksi menjadi 5,98 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Perusahaan juga mengantisipasi perubahan posisi laba bersih dari keuntungan Rp 713 miliar pada 2025 menjadi potensi kerugian sekitar Rp 98 miliar pada 2026. Tingkat solvabilitas perusahaan diprediksi turun dari 321 persen pada 2025 menjadi 195 persen pada 2026 jika kondisi pasar modal tidak menunjukkan perbaikan.
Dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI, Jeffry menegaskan bahwa perusahaan tengah berupaya melakukan langkah-langkah terobosan secara organik. Dukungan dari berbagai pemangku kepentingan dinilai krusial untuk menjaga stabilitas kinerja di tengah tantangan ekonomi yang berat.
Tantangan lainnya datang dari rasio klaim program Tabungan Hari Tua (THT) yang berada di atas 100 persen. Sepanjang 2025, nilai klaim THT mencapai Rp 1,5 triliun, sementara premi yang diterima tercatat hanya sebesar Rp 1,3 triliun.
Secara keseluruhan, ASABRI mencatat 69.749 kejadian klaim sepanjang 2025. Jumlah tersebut mencakup 56 ribu klaim program THT, 4.500 klaim Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan 8.400 klaim Jaminan Kematian (JKM).
Di sisi lain, jumlah peserta ASABRI mengalami peningkatan sebesar 4,78 persen menjadi 1,59 juta orang sepanjang 2025. Meski tumbuh, realisasi penambahan peserta tersebut masih berada di bawah target awal yang sempat diproyeksikan mencapai 750 ribu personel baru.
Kinerja tahun 2025 sendiri mencatatkan catatan positif dengan pertumbuhan aset sebesar 12,23 persen dan peningkatan hasil investasi bersih sebesar 56,82 persen. Laba bersih pada 2025 mampu melonjak 158 persen menjadi Rp 713,72 miliar dibanding tahun sebelumnya.
Manajemen menekankan bahwa dinamika kinerja keuangan perusahaan sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar global dan nasional. Upaya mitigasi risiko terus dijalankan untuk menjaga keberlangsungan program asuransi bagi seluruh peserta di masa depan.







