Bursa Saham

Realisasikan 73,5% Capex 2026, Simak Prospek dan Rekomendasi Saham ANJT

87
×

Realisasikan 73,5% Capex 2026, Simak Prospek dan Rekomendasi Saham ANJT

Sebarkan artikel ini
Papan informasi perdagangan saham PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) di Bursa Efek Indonesia
PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 179,49% pada kuartal I 2026.

JAKARTA – Kinerja PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) diproyeksikan tetap prospektif sepanjang sisa tahun 2026, meski perusahaan tengah menghadapi tantangan terkait kepatuhan batas minimum saham beredar atau free float.

Hingga kuartal I 2026, ANJT mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 179,49% menjadi Rp 232,53 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 83,2 miliar. Pertumbuhan laba ini didorong oleh efisiensi beban operasional, penurunan beban keuangan, serta realisasi laba atas pelepasan investasi sebesar Rp 6,66 miliar.

Pendapatan perusahaan pada periode tersebut tercatat mencapai Rp 1,15 triliun, meningkat tipis dari Rp 1 triliun pada kuartal I 2025. Perbaikan profitabilitas secara keseluruhan dinilai bukan semata-mata berasal dari peningkatan penjualan, melainkan berkat optimalisasi efisiensi internal.

Terkait pengembangan bisnis, ANJT telah mengalokasikan belanja modal (capital expenditure) sebesar Rp 330,44 miliar untuk tahun 2026. Mayoritas anggaran tersebut difokuskan pada perawatan tanaman immature senilai Rp 149,15 miliar dan pembangunan infrastruktur sebesar Rp 103,16 miliar.

Hingga kuartal I 2026, realisasi belanja modal telah mencapai Rp 242,78 miliar atau setara dengan 73,5% dari total anggaran tahunan. Sisa anggaran sebesar Rp 87,66 miliar akan dialokasikan untuk kebutuhan operasional lanjutan selama sisa tahun berjalan.

Di sisi lain, ANJT masih berupaya memenuhi ketentuan free float saham yang diatur oleh Bursa Efek Indonesia. Saat ini, kepemilikan saham publik berada di bawah batas minimum akibat pelaksanaan Mandatory Tender Offer (MTO) oleh First Resources Limited yang menguasai 95,91% saham perseroan.

Manajemen ANJT menyatakan tengah melakukan kajian mendalam terkait berbagai alternatif pemenuhan aturan tersebut. Perusahaan terus berkoordinasi dengan pemegang saham pengendali serta otoritas terkait untuk menentukan langkah strategis ke depan.

Analis pasar menilai kondisi free float yang rendah berpotensi membatasi likuiditas saham di pasar sekunder. Hal ini menyebabkan volatilitas harga menjadi lebih tinggi dan membatasi minat investor institusi untuk masuk ke dalam saham emiten tersebut.

Meski demikian, secara operasional, faktor free float tidak berdampak langsung terhadap produktivitas bisnis perusahaan. Fokus utama manajemen saat ini tetap pada peningkatan produktivitas serta efisiensi di lapangan.

Prospek kinerja ANJT pada semester II 2026 dinilai masih positif seiring potensi peningkatan produksi tandan buah segar (TBS). Pemulihan produktivitas di kebun Belitung pasca-El Nino dan perbaikan di kebun Sumatra Utara II diprediksi akan menjadi katalis pertumbuhan.

Investor tetap diminta mencermati risiko eksternal seperti fluktuasi harga CPO global dan perubahan kebijakan ekspor. Selain itu, dinamika cuaca serta kebijakan pungutan sawit nasional menjadi faktor penentu yang perlu diperhatikan dalam menjaga stabilitas margin perusahaan.