Valuta

Rupiah Melemah Akibat Konflik Timur Tengah dan Suksesi Bank Indonesia

54
×

Rupiah Melemah Akibat Konflik Timur Tengah dan Suksesi Bank Indonesia

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di layar monitor perdagangan
Nilai tukar rupiah tertekan akibat konflik Timur Tengah dan dinamika suksesi di Bank Indonesia.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada di bawah tekanan signifikan sepanjang sepekan terakhir. Ketidakpastian global yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah serta dinamika suksesi kepemimpinan di Bank Indonesia menjadi pendorong utama pelemahan mata uang Garuda.

Berdasarkan data pasar spot per Jumat (31/7/2026), rupiah sempat menguat 0,49% ke level Rp 18.022 per dolar AS. Namun, secara mingguan, mata uang domestik ini masih terdepresiasi 0,32% dibandingkan posisi pada Jumat (24/7/2026) di angka Rp 17.963 per dolar AS.

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menunjukkan tren serupa dengan pelemahan mingguan sebesar 0,47%. Kurs Jisdor tercatat berada di level Rp 18.058 per dolar AS pada akhir pekan, turun dari posisi Rp 17.973 pada pekan sebelumnya.

Analis menilai pelemahan ini dipicu oleh memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya setelah Iran meluncurkan rudal balistik ke arah pasukan AS. Meskipun serangan tersebut dilaporkan berhasil dicegat, insiden ini meruntuhkan harapan akan jeda diplomatik yang sempat tercipta.

Kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan Teluk Persia meningkat drastis seiring dengan aksi saling serang antara militer AS dan IRGC Iran. Eskalasi ini memicu lonjakan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven di pasar keuangan global.

Sentimen eksternal lainnya datang dari kebijakan moneter Amerika Serikat melalui Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS memutuskan untuk mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50%–3,75% di tengah perbedaan pandangan internal FOMC.

Tiga pejabat The Fed, yakni dari Cleveland, Minneapolis, dan Dallas, tercatat menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Langkah ini dinilai perlu dilakukan untuk meredam tekanan inflasi yang masih membayangi ekonomi AS.

Di sisi domestik, pasar menyoroti pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia. Transisi kepemimpinan ini menciptakan ketidakpastian tambahan di tengah upaya BI menjaga stabilitas nilai tukar.

Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kebijakan moneter yang stabil guna mendukung pertumbuhan ekonomi. BI tetap fokus pada pengendalian inflasi dan menjaga volatilitas rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan.

Analis memproyeksikan rupiah pada pekan mendatang akan bergerak di kisaran Rp 17.920 hingga Rp 18.300 per dolar AS. Pergerakan ini sangat bergantung pada konsistensi arus masuk modal asing ke instrumen keuangan domestik.

Selain itu, pelaku pasar akan terus memantau dampak kenaikan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya impor dan menekan neraca perdagangan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kombinasi antara suku bunga tinggi AS dan ketegangan geopolitik diprediksi akan terus memperkuat posisi dolar AS dalam jangka pendek. Stabilitas nilai tukar rupiah ke depan sangat bergantung pada kemampuan otoritas moneter dalam mengelola sentimen pasar yang volatil.