Bursa Saham

IHSG Menguat 0,81% Sepekan, Analis Proyeksikan Tren Positif Berlanjut

48
×

IHSG Menguat 0,81% Sepekan, Analis Proyeksikan Tren Positif Berlanjut

Sebarkan artikel ini
Tampilan grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di layar monitor bursa efek
IHSG mencatatkan penguatan mingguan sebesar 0,81% pada akhir perdagangan Juli 2026.

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pekan terakhir Juli 2026 dengan catatan positif. Pada Jumat (31/7/2026), indeks ditutup menguat 0,80% ke level 6.236,13.

Penguatan tersebut sekaligus mengakumulasi kenaikan mingguan sebesar 0,81%. Kinerja ini didorong oleh peningkatan volume pembelian di pasar yang mencerminkan optimisme investor.

Secara bulanan, IHSG tercatat menunjukkan performa impresif dengan kenaikan mencapai 10,51% sepanjang Juli 2026. Seluruh sektor terpantau mengalami penguatan, dengan sektor teknologi menjadi kontributor utama.

Sentimen pasar dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan global. Salah satu faktor utama adalah keputusan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%.

Pernyataan bernada hawkish dari The Fed diimbangi oleh data ekonomi Amerika Serikat yang melandai. Pertumbuhan produk domestik bruto (GDP) yang di bawah ekspektasi serta inflasi PCE yang menurun memberikan ruang bagi pasar.

Kondisi geopolitik di Timur Tengah yang cenderung mereda juga menjadi sentimen pendukung. Hal ini mendorong penurunan harga minyak mentah dunia dan meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global.

Di dalam negeri, pasar merespons positif rilis laporan keuangan emiten kuartal II-2026. Selain itu, pergerakan nilai tukar rupiah turut menjadi perhatian investor pasca-mundurnya Gubernur Bank Indonesia.

Nilai tukar rupiah pada penutupan akhir pekan menguat 0,49% ke level Rp18.022 per dolar AS. Penguatan ini terjadi seiring dengan pelemahan indeks dolar Amerika Serikat di pasar spot.

Analis memproyeksikan tren positif IHSG berpotensi berlanjut pada perdagangan pekan depan. Indeks diperkirakan akan bergerak menguji level resistensi di kisaran 6.300 hingga 6.380.

Namun, ruang kenaikan diperkirakan relatif terbatas. Analis menetapkan level support pada area 5.966, sementara level resistance berada di 6.377.

Pelaku pasar kini menanti sejumlah rilis data ekonomi penting sebagai katalis baru. Dari dalam negeri, investor akan mencermati data neraca perdagangan, inflasi, dan cadangan devisa Indonesia.

Sentimen eksternal akan berfokus pada rilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) dan neraca perdagangan China. Selain itu, data ketenagakerjaan Amerika Serikat, termasuk non-farm payroll (NFP), akan menjadi perhatian utama.

Investor juga tetap memantau arah kebijakan moneter Bank Indonesia pasca-perubahan kepemimpinan. Stabilitas nilai tukar rupiah diprediksi tetap menjadi faktor krusial bagi pergerakan indeks ke depan.

Untuk strategi perdagangan awal pekan, pelaku pasar disarankan mencermati beberapa emiten. Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) direkomendasikan pada kisaran Rp595-Rp605 per saham.

Selain itu, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dinilai layak dicermati pada rentang Rp1.455-Rp1.610. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) juga masuk dalam daftar pantauan di kisaran Rp540-Rp580 per saham.