Ekonomi

Ekonom Danamon Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II Lampaui 5%

35
×

Ekonom Danamon Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II Lampaui 5%

Sebarkan artikel ini
Ekonom Bank Danamon Hosiana E. Situmorang saat memberikan keterangan pers di Parapat, Sumatra Utara.
Ekonom Bank Danamon memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2026 mencapai 5,18 persen.

PARAPAT – Ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 diproyeksikan tumbuh di atas 5 persen. Proyeksi ini didorong oleh kuatnya belanja pemerintah serta konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi global.

Ekonom Bank Danamon, Hosiana E. Situmorang, menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada periode April hingga Juni 2026 diperkirakan menyentuh angka 5,18 persen. Angka tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan media di Parapat, Sumatra Utara, pada akhir pekan lalu.

Meski berada di atas ambang 5 persen, proyeksi ini menunjukkan adanya perlambatan dibandingkan capaian pada kuartal I 2026. Pada kuartal sebelumnya, ekonomi nasional tercatat tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan atau year-on-year.

Hosiana menjelaskan bahwa belanja negara yang difokuskan pada proyek-proyek strategis menjadi motor penggerak utama. Selain itu, konsumsi rumah tangga dinilai masih menjadi penopang stabilitas meski pertumbuhannya tidak sekuat periode awal tahun.

Di sisi lain, kinerja ekspor nasional diperkirakan mengalami perlambatan pada kuartal II 2026. Kondisi eksternal ini memberikan tekanan yang cukup berarti terhadap laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Sektor investasi memberikan kontribusi positif dengan realisasi mencapai Rp 511,8 triliun pada kuartal II 2026. Capaian tersebut mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi menunjukkan bahwa Penanaman Modal Asing (PMA) menjadi pendorong utama realisasi investasi. Investasi asing tercatat tumbuh signifikan sebesar 27,5 persen secara tahunan.

Namun, Bank Dunia memberikan catatan mengenai keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. Tanpa reformasi struktural yang mendorong produktivitas, pertumbuhan di atas 5 persen dinilai sulit untuk dipertahankan secara konsisten.

Lembaga internasional tersebut menyoroti bahwa potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berada di level 4,2 persen. Pertumbuhan yang terjadi saat ini dinilai masih sangat bergantung pada stimulus permintaan, termasuk insentif fiskal dan belanja pemerintah yang terarah.

Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh di angka 5,0 persen sepanjang tahun 2026. Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi 5,2 persen pada periode 2027 hingga 2028 dengan syarat keberhasilan reformasi.

Ketergantungan pada stimulus fiskal dinilai memiliki batasan dalam meningkatkan kapasitas produksi nasional. Jika tidak disertai langkah peningkatan produktivitas, skema insentif tersebut hanya akan memberikan dorongan pertumbuhan sementara.

Tantangan ini sejalan dengan dinamika ekonomi global yang saat ini masih dibayangi ketidakpastian kebijakan moneter. Beberapa lembaga riset mencatat bahwa paket stimulus pemerintah sering kali belum sepenuhnya menjawab persoalan pelemahan daya beli masyarakat secara menyeluruh di semester II 2026.