Jakarta – Di tengah ketatnya persaingan dunia kerja dan melonjaknya angka pengangguran di kalangan anak muda, fenomena unik “pura-pura bekerja” justru menjamur di Tiongkok. Generasi muda di sana rela merogoh kocek untuk bisa merasakan atmosfer “bekerja” di kantor-kantor imitasi.
Ide yang terkesan absurd ini, muncul sebagai solusi alternatif di tengah perlambatan ekonomi yang melanda. Dengan menyimulasikan kesibukan di lingkungan kantor, mereka berupaya menjaga produktivitas dan menghindari perasaan tidak berguna.
Menurut laporan BBC, angka pengangguran di kalangan pemuda Tiongkok telah menembus angka 14%. Sebagian dari mereka memilih untuk membayar biaya harian sekitar 30 hingga 50 yuan atau setara dengan Rp 60 ribu hingga Rp100 ribu untuk mengakses fasilitas kantor tiruan. Fasilitas tersebut meliputi komputer, akses internet, ruang rapat, hingga ruang bersantai.
Di kantor-kantor tersebut, mereka berinteraksi dengan individu lain yang melakukan aktivitas serupa. Salah satunya adalah Shui Zhou, seorang pria berusia 30 tahun. Setelah bisnis kulinernya mengalami kegagalan pada tahun 2024, ia memutuskan untuk membayar 30 yuan per hari agar bisa “bekerja” di kantor palsu yang dikelola oleh “Pretend to Work Company” di Dongguan.”Saya merasa sangat bahagia. Rasanya seperti kita benar-benar bekerja bersama sebagai sebuah tim,” ungkapnya, seperti dikutip dari BBC, Selasa (12/8/2025).
Di lingkungan kantor tersebut, mereka memiliki kesempatan untuk menggunakan komputer dalam mencari lowongan pekerjaan, menjajaki peluang usaha, atau sekadar menjaga kedisiplinan diri.
Fenomena ini telah menyebar luas ke berbagai kota besar di Tiongkok, termasuk Shenzhen, shanghai, Nanjing, Wuhan, Chengdu, dan Kunming. Beberapa kantor bahkan menawarkan paket komprehensif yang mencakup makan siang, camilan, dan minuman.
Dr. Christian Yao,seorang pakar ekonomi dari Victoria University of Wellington,menjelaskan bahwa fenomena ‘pura-pura bekerja’ ini merupakan konsekuensi dari transformasi ekonomi dan ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. “Anak muda membutuhkan tempat untuk memikirkan langkah selanjutnya atau melakukan pekerjaan sambilan sebagai masa transisi.Kantor pura-pura ini adalah salah satu solusi transisional,” jelasnya.
Xiaowen Tang, seorang wanita berusia 23 tahun asal Shanghai, telah menyewa meja kerja di kantor pura-pura selama sebulan karena belum berhasil mendapatkan pekerjaan tetap setelah menyelesaikan studinya tahun lalu.
Ia memanfaatkan foto-foto yang diambil di kantor palsu sebagai bukti magang untuk memenuhi persyaratan universitas dan menulis novel secara daring sambil “berpura-pura” bekerja. “Kalau sudah pura-pura, ya pura-puranya sampai tuntas,” tegasnya.
Dr. Biao Xiang dari Max Planck Institute di Jerman berpendapat bahwa tren ini muncul sebagai akibat dari rasa frustrasi dan ketidakberdayaan yang dirasakan oleh anak muda dalam menghadapi minimnya kesempatan kerja. “pura-pura bekerja adalah cangkang yang mereka buat untuk menjaga jarak dari masyarakat dan memberi ruang bagi diri sendiri,” terangnya.
Feiyu (nama samaran), pemilik Pretend To Work Company di Dongguan, yang juga pernah mengalami masa pengangguran, mengungkapkan bahwa yang ia tawarkan bukan sekadar tempat duduk, melainkan juga martabat agar para pelanggannya tidak merasa tidak berguna. Ia juga menceritakan bahwa bisnis ritelnya terpaksa gulung tikar selama pandemi Covid-19.
ia menambahkan bahwa 40% pelanggannya adalah lulusan baru yang menggunakan kantor ini untuk mengambil foto sebagai bukti magang kepada dosen, sementara 60% lainnya adalah pekerja lepas dan digital nomad. “Usia rata-rata pelanggan sekitar 30 tahun,” imbuhnya.
Meskipun demikian, Feiyu mengakui bahwa keberlanjutan bisnis ini masih belum pasti dalam jangka panjang dan lebih melihatnya sebagai sebuah eksperimen sosial. “Ini menggunakan kebohongan untuk menjaga kehormatan,tapi memungkinkan beberapa orang menemukan kebenaran,” pungkasnya.
Fenomena ini menggambarkan bagaimana generasi muda di Tiongkok beradaptasi dengan kondisi pasar kerja yang penuh tantangan, serta menyoroti urgensi transformasi ekonomi dan pendidikan agar lebih relevan dengan kebutuhan zaman.







