Tutup
FintechNewsPerbankan

Bank-Pindar Kolaborasi, Akses Kredit Masyarakat Terbuka Lebih Lebar

215
×

Bank-Pindar Kolaborasi, Akses Kredit Masyarakat Terbuka Lebih Lebar

Sebarkan artikel ini
aftech-dan-mandala-consulting-soroti-perluasan-akses-kredit-via-sinergi-bank-pindar
AFTECH dan Mandala Consulting Soroti Perluasan Akses Kredit via Sinergi Bank-Pindar

Jakarta – Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama Mandala Consulting meluncurkan white paper tentang perluasan akses kredit.

Fokus utama white paper ini adalah menjajaki kesenjangan akses kredit formal di indonesia.

Selain itu, juga membahas potensi kolaborasi antara perbankan dan platform pinjaman daring (pindar) atau fintech peer-to-peer (P2P) lending.

Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menjelaskan bahwa white paper ini disusun melalui forum presentasi temuan studi dan diskusi panel.

Diskusi tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari regulator, institusi perbankan, asosiasi industri, ekonom, sektor asuransi, hingga ekosistem Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA).

“White paper ini menegaskan bahwa perluasan akses kredit di Indonesia tidak dapat bergantung pada satu kanal pembiayaan saja,” kata Firlie, Minggu (15/2/2026).

Firlie menambahkan, kolaborasi yang bertanggung jawab antara perbankan dan pindar menjadi kunci penting untuk membuka pintu perluasan pembiayaan.

Kolaborasi ini juga bertujuan menjangkau segmen masyarakat yang selama ini belum terlayani secara optimal.

“Dengan tetap menjunjung prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang kuat,” ujarnya.

CEO Mandala Consulting, Manggala Putra Santosa, mengungkapkan bahwa peningkatan rasio kredit sangat menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Hal ini dilakukan melalui penguatan konsumsi, investasi, dan produktivitas.

Namun, tantangan akses kredit di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari besarnya populasi yang belum sepenuhnya terintegrasi ke dalam sistem keuangan formal.

Data World Bank menunjukkan,sekitar 48 persen penduduk dewasa Indonesia masih underbanked.

Sementara data SNLIK OJK mencatat inklusi keuangan perbankan baru mencapai sekitar 70 persen pada 2025.

“Artinya, masih ada sekitar 30 persen orang dewasa di Indonesia masih financially excluded,” ujarnya.

Peluncuran white paper ini menjadi ruang dialog lintas pemangku kepentingan.

Tujuannya membahas implikasi kolaborasi bank dan pindar terhadap inklusi keuangan, pembiayaan produktif UMKM, serta dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan.

Stagnasi akses kredit di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan mencerminkan keterbatasan sistem pembiayaan formal dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama segmen underbanked.

Pendekatan kolaboratif antara perbankan dan pindar saat ini menjadi semakin penting dalam rangka memperluas akses pembiayaan guna mendukung tercapainya target pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.