Tutup
Regulasi

BBRI Tebar Dividen Final Rp209 per Saham, Danantara Raup Rp16,6 Triliun

184
×

BBRI Tebar Dividen Final Rp209 per Saham, Danantara Raup Rp16,6 Triliun

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) resmi menetapkan pembagian dividen final sebesar Rp 209 per saham untuk tahun buku 2025. Keputusan tersebut disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang berlangsung pada Jumat (10/4).

Dengan tambahan dividen interim sebesar Rp 137 per saham yang telah dibayarkan pada 15 Januari 2026, total dividen tunai yang dibagikan BRI untuk tahun buku 2025 mencapai Rp 346 per saham atau setara dengan Rp 52,1 triliun.

Pemerintah menjadi penerima manfaat terbesar dari aksi korporasi ini. Melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang memegang 52,66% saham, negara diproyeksikan mengantongi dividen sekitar Rp 16,6 triliun.

Selanjutnya, Indonesia Investment Authority (INA) akan menerima dividen sekitar Rp 1,1 triliun dari kepemilikan 3,6% saham. Sementara itu, BPJS Ketenagakerjaan melalui program Jaminan Hari Tua bakal memperoleh dividen senilai Rp 341 miliar.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa pembagian dividen ini merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam memberikan imbal hasil optimal kepada para pemegang saham. Kebijakan ini didukung oleh kinerja fundamental perseroan yang tetap solid di tengah tantangan ekonomi.

“Pembagian dividen ini didasarkan pada kinerja perseroan yang tetap positif, ditopang oleh penguatan segmen UMKM sebagai inti bisnis BRI, serta akselerasi transformasi digital untuk meningkatkan efisiensi operasional,” ujar Hery dalam keterangan resminya.

Dividen tersebut diambil dari laba bersih konsolidasian tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 56,65 triliun. Hery menambahkan, langkah ini sekaligus menjadi kontribusi nyata BRI dalam mendukung pembangunan nasional dan transformasi ekonomi berbasis inklusi keuangan.

Sebagai catatan, BRI memiliki rekam jejak konsisten dalam membagikan dividen. Pada tahun buku 2024, perseroan membagikan total dividen Rp 51,73 triliun atau Rp 343,40 per saham.

Kinerja Keuangan dan Laba Bersih

Di balik besarnya pembagian dividen, BRI mencatatkan penurunan laba bersih konsolidasian sebesar 5,26% menjadi Rp 57,13 triliun pada 2025, dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 60,30 triliun.

Penurunan laba ini dipicu oleh pembengkakan biaya pencadangan (*impairment*) sebesar 20,8% menjadi Rp 46,09 triliun. Di sisi lain, penyaluran kredit BRI tetap tumbuh positif sebesar 12,3% menjadi Rp 1.521 triliun.

Pendapatan bunga bersih perseroan tercatat naik 5,5% menjadi Rp 150,5 triliun. Namun, margin bunga bersih (*net interest margin*) mengalami kontraksi dari 6,75% menjadi 6,54%.

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (*Non-Performing Loan*/NPL) *gross* BRI naik menjadi 3,29% dari sebelumnya 2,94%. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp 1.466 triliun dengan rasio *Loan to Deposit Ratio* (LDR) di angka 91,96%.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Harga emas spot sempat terkoreksi. Namun, investor perlu mempertimbangkan karakteristik masing-masing produk sebelum berinvestasi, baik emas batangan maupun emas digital. Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (1/6) pukul 11.50 WIB, harga emas spot berada di level US$ 4.511 per ons troi. Posisi tersebut turun 1,15% dalam sepekan dan terkoreksi 0,15% dibandingkan satu bulan sebelumnya. Di pasar domestik, harga emas…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) memutuskan pembagian dividen tunai sebesar Rp 936,26 miliar atau Rp 20 per saham untuk tahun buku 2025. Nilai dividen per saham ini menjadi yang terendah dalam lima tahun terakhir, meski KLBF mencatatkan pertumbuhan laba bersih 13,09% secara tahunan (YoY) menjadi Rp3,66 triliun. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai, kebijakan dividen tersebut masih…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Harga emas dunia masih bertahan di level tinggi meski mengalami koreksi dalam sepekan terakhir. Prospek pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) serta kuatnya permintaan investasi dinilai masih menjadi penopang utama pergerakan logam mulia. Berdasarkan Trading Economics pada Senin (1/6/2026) pukul 07.40 WIB, harga emas spot berada di level US$ 4.535 per ons troi. Harga tersebut turun 0,62% dalam sepekan, tetapi…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) mulai langkah baru dalam pengembangan bisnisnya. Emiten yang bergerak di sektor produsen furnitur dan jasa konstruksi interior ini bakal memperluas lini usahanya ke sektor tambang batubara. MEJA menempuh sektor lini usaha baru melalui aksi korporasi berupa akusisi 45% saham PT Trimitra Coal Perkasa (TCP) dengan nilai transaksi mencapai sekitar US$ 100 juta. Transaksi akuisisi ini…