Ekonomi

BP BUMN dan Danantara Percepat Hilirisasi PTPN untuk Ketahanan Nasional

42
×

BP BUMN dan Danantara Percepat Hilirisasi PTPN untuk Ketahanan Nasional

Sebarkan artikel ini
Kepala BP BUMN Dony Oskaria memimpin rapat koordinasi percepatan hilirisasi bersama direksi PTPN Group di Jakarta.
Kepala BP BUMN Dony Oskaria membahas percepatan hilirisasi PTPN bersama jajaran direksi untuk memperkuat ketahanan nasional.

JAKARTA – Badan Pengelola (BP) BUMN bersama Danantara berkomitmen mempercepat hilirisasi sektor perkebunan melalui PT Perkebunan Nusantara (PTPN) Group. Langkah strategis ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor.

Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, telah membahas persiapan implementasi program tersebut bersama jajaran direksi PTPN Group pada Kamis (6/8). Fokus utama pertemuan mencakup perencanaan, riset, serta penyusunan model bisnis sebelum kebijakan dijalankan secara masif.

Dony menegaskan bahwa setiap proyek hilirisasi wajib melalui tahap uji coba skala kecil terlebih dahulu. Pendekatan ini dilakukan untuk mengukur potensi keberhasilan serta kelayakan investasi sebelum perusahaan memutuskan untuk berekspansi ke skala yang lebih besar.

“Sebelum memulai proyek skala besar, tim harus melakukan uji coba di skala kecil. Tingkat keberhasilan dan pengembalian investasi harus dihitung secara akurat,” ujar Dony melalui keterangan resmi BP BUMN, Jumat (7/8).

Penerapan uji coba ini menjadi fondasi bagi BP BUMN untuk memastikan efisiensi modal. Dony menekankan bahwa setiap keputusan investasi harus didukung oleh studi kelayakan yang komprehensif, mencakup produktivitas lahan hingga proyeksi return on investment (ROI).

Selain aspek finansial, perencanaan proyek juga wajib memperhatikan aspek lingkungan secara ketat. Pengembangan hilirisasi dipastikan tidak boleh merusak fungsi kawasan resapan air maupun ekosistem di sekitar wilayah operasional PTPN.

Strategi ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan di dalam negeri. Melalui hilirisasi, pemerintah berharap rantai pasok pangan dan energi nasional menjadi lebih mandiri dan berdaya saing tinggi.

Di sektor energi, pemerintah sebelumnya juga telah menunjukkan keseriusan dalam pengembangan bahan bakar terbarukan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahkan memastikan kualitas biodiesel B50 telah melalui serangkaian uji coba yang sukses untuk menggantikan ketergantungan pada solar impor.

Upaya serupa juga terlihat di berbagai daerah, seperti inovasi kompos organik oleh Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung dan pengembangan kawasan Sadai sebagai pusat hilirisasi perikanan serta tambang di Bangka Selatan. Inisiatif-inisiatif ini mencerminkan semangat hilirisasi yang kini menjadi arus utama kebijakan ekonomi nasional.

Melalui pendekatan bertahap dan berbasis data yang diterapkan Danantara, BP BUMN optimistis risiko kegagalan proyek dapat diminimalkan. Langkah ini diharapkan mampu menghasilkan nilai tambah berkelanjutan bagi ekonomi nasional.

Program hilirisasi ini diproyeksikan menjadi penggerak utama pertumbuhan sektor perkebunan ke depan. Fokus pada riset dan model bisnis yang matang menjadi kunci utama agar investasi yang digelontorkan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat luas.