Jakarta – Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) mengumumkan capaian kinerjanya selama setahun terakhir. Pengumuman ini disampaikan dalam peringatan satu tahun lembaga tersebut di Wisma Danantara, Rabu (11/3).
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa fokus utama di tahun pertama adalah membangun fondasi kelembagaan dan tata kelola.
Selain itu, Danantara juga telah memulai berbagai inisiatif strategis sebagai dasar transformasi pengelolaan aset negara.
“Tahun pertama ini adalah tahun pembangunan fondasi,” ujar Rosan. “Kami membangun tata kelola yang kuat, memperkuat struktur kelembagaan, serta memulai berbagai inisiatif strategis yang menjadi pijakan bagi penciptaan nilai jangka panjang bagi Indonesia.”
Presiden Prabowo Subianto yang hadir dalam acara tersebut menekankan pentingnya integritas dan disiplin tata kelola sebagai fondasi utama untuk memperkuat ekonomi nasional.
“Kita bersyukur Indonesia kini memiliki lembaga pengelola investasi negara yang dapat disejajarkan dengan sovereign wealth fund global,” kata Presiden Prabowo.
“Dalam satu tahun ini, terlihat bahwa dengan manajemen yang baik dan tata kelola yang disiplin, kinerja pengelolaan aset negara meningkat signifikan,” lanjutnya.
Danantara membagi capaian kinerja lembaga ke dalam tiga kategori utama:
1. Fondasi Tata Kelola dan Kelembagaan
Di tahun pertama, Danantara fokus pada pembangunan infrastruktur kelembagaan. Lebih dari 27 kebijakan tata kelola telah disusun untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas sesuai standar internasional.
Upaya ini melahirkan Danantara Indonesia Trust Fund pada Oktober 2025, yang akan menjadi lembaga pendorong investasi sosial di sektor pendidikan, kesehatan, serta sanitasi.
Lembaga ini bertujuan untuk mendukung stabilitas program pemerintah seperti Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
2. Danantara Asset Management (DAM): Motor Transformasi dan Penciptaan Nilai
DAM berperan sebagai pengelola portofolio Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan fokus pada restrukturisasi dan penciptaan nilai ekonomi riil.
langkah yang diambil adalah mendorong inisiatif hilirisasi lintas sektor dengan potensi nilai investasi mencapai US$ 26 miliar.
Proyek-proyek strategis seperti pengolahan alumina, bioavtur, bioethanol, hingga industri garam telah memasuki tahap konstruksi pada Februari 2026.
DAM juga melakukan proses streamlining melalui likuidasi, merger, dan divestasi terhadap entitas yang tidak lagi menjadi prioritas, guna membentuk struktur BUMN yang lebih sehat dan fokus.
3. Danantara Investment Management (DIM): Jembatan Modal Global
sebagai lengan investasi global,DIM bertugas menarik modal dan keahlian internasional ke dalam proyek strategis nasional.
Dalam setahun,DIM telah menjalin 11 kemitraan global melalui Memorandum of Understanding (MoU),dengan total komitmen investasi mencapai Rp346 triliun.
DIM juga menciptakan tambahan kapasitas pembiayaan sebesar Rp150 triliun melalui berbagai instrumen seperti Patriot bonds dan Revolving Credit Facility (RCF).
Baru-baru ini, DIM turut serta dalam proyek pengembangan Kampung Haji di Mekkah untuk memperkuat ekosistem halal dunia.
“Fokus kami ke depan adalah memastikan fondasi tersebut diterjemahkan menjadi kinerja nyata melalui pengelolaan aset yang profesional dan investasi strategis yang memberikan manfaat bagi masa depan generasi Indonesia,” tutup Rosan.







