Tutup
EkonomiNews

Gen Z Lulusan Baru Berjuang, Pengangguran Terus Meningkat

334
×

Gen Z Lulusan Baru Berjuang, Pengangguran Terus Meningkat

Sebarkan artikel ini
fenomena-gen-z-menganggur-setelah-lulus-kuliah,-ini-biang-keroknya-menurut-pakar
Fenomena Gen Z Menganggur Setelah Lulus Kuliah, Ini Biang Keroknya Menurut Pakar

Jakarta – Lulusan baru dari generasi Z (gen Z) menghadapi tantangan berat dalam mencari pekerjaan. Tingkat pengangguran di kalangan ini terus meningkat dan menjadi perhatian serius.

Data terbaru menunjukkan, pada Juni 2025, tingkat pengangguran lulusan baru mencapai 4,8%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tingkat pengangguran nasional yang berada di angka 4,0%.

Presiden dan Chief Investment Strategist di Yardeni Research, Ed Yardeni, mengungkapkan tren ini mulai berubah sejak sekitar tahun 2015, jauh sebelum teknologi AI berkembang pesat.

“Mungkin karena jumlah orang berpendidikan sarjana di tenaga kerja kini meningkat, sehingga pendatang baru bersaing dengan sarjana berpengalaman,” kata Yardeni, seperti dikutip dari Fortune, Selasa (23/9/2025).

Faktor-faktor seperti perkembangan teknologi AI dan peningkatan jumlah sarjana turut memengaruhi fenomena ini.

Data dari New York Fed mencatat, tingkat pengangguran lulusan baru sempat melampaui rata-rata nasional pada Desember 2014, yaitu 5,6% dibandingkan 5,5%.

Selama pandemi, pengangguran lulusan baru konsisten lebih tinggi dari rata-rata. Sejak awal 2022, perbedaan ini semakin melebar.

Yardeni menambahkan,persentase warga Amerika dengan gelar sarjana kini mencapai 37,5%,naik signifikan dari 25,6% pada tahun 2000.

Antara tahun 1993 hingga 2023, jumlah lulusan perguruan tinggi melonjak 74,9%, sementara lulusan SMA hanya meningkat 14%.

Analisis lain dari New York Fed menunjukkan lulusan jurusan teknik komputer, ilmu komputer, fisika, dan sistem informasi & manajemen memiliki tingkat pengangguran lebih tinggi dibanding pekerja secara keseluruhan.

“Ini menunjukkan terlalu banyak anak muda memilih jurusan komputer dan menghadapi kesulitan lebih dari yang diperkirakan,” jelas Yardeni.

Survei Cengage Group menemukan AI menjadi salah satu alasan lebih banyak perusahaan berencana mempekerjakan jumlah pekerja entry-level sama atau lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya.

namun, National Bureau of Economic Research tahun 2023 justru menemukan AI membuat perusahaan memiliki lebih banyak pekerja level bawah yang bisa memanfaatkan teknologi.

Ekonom Wall Street, Paul Donovan, menilai pasar tenaga kerja AS unik.Ia mencatat pekerja muda di Eurozone memiliki pengangguran rendah, Inggris turun, dan Jepang hampir mencapai partisipasi tenaga kerja tertinggi sepanjang masa.

“Sepertinya sangat tidak mungkin AI secara khusus merugikan prospek pekerjaan pekerja muda AS,” tulisnya.

Kini, pekerjaan berbasis keterampilan lebih diminati Gen Z yang ingin menghindari rutinitas di depan komputer dan mencari karier yang tidak mudah tergantikan AI.