Tutup
Regulasi

Gubernur BI Ungkap 3 Tantangan Ekonomi Akibat Dampak Perang Global

107
×

Gubernur BI Ungkap 3 Tantangan Ekonomi Akibat Dampak Perang Global

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memetakan tiga tantangan krusial yang dihadapi Indonesia di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah serta ketidakpastian ekonomi global yang terus membayangi.

Perry menegaskan bahwa kondisi global saat ini semakin tidak menentu. Hal ini menuntut kesiapan Indonesia dalam merespons tekanan eksternal agar stabilitas ekonomi domestik tetap terjaga.

Tantangan pertama, menurut Perry, adalah upaya membangkitkan kembali kepercayaan pelaku usaha. Ia menekankan pentingnya sinergi dalam mencari pembiayaan untuk proyek-proyek prioritas nasional demi menciptakan stabilitas yang dinamis sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Hal ini ia sampaikan dalam acara Kick Off Percepatan Intermediasi Indonesia (Pinisi) di kantor pusat BI, Jakarta, Senin, 27 April 2026.

Kedua, Indonesia harus memperkuat mesin pertumbuhan domestik. Fokus utamanya adalah menjaga daya beli konsumsi masyarakat serta terus mendorong peningkatan investasi. Langkah ini krusial agar program prioritas pemerintah tetap berjalan optimal dengan ketersediaan kapasitas pembiayaan yang memadai.

Tantangan ketiga adalah memastikan efektivitas implementasi kebijakan di tataran dunia usaha, sektor perbankan, hingga masyarakat luas. Perry menyoroti perlunya penguatan kerangka kebijakan, termasuk di sektor hilirisasi industri untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain perlambatan ekonomi, Indonesia juga dihadapkan pada ketidakpastian yang berkelanjutan. Perry menyoroti kebijakan tarif tinggi dari Amerika Serikat serta memburuknya situasi geopolitik global.

Ia secara khusus mengingatkan dampak konflik di Timur Tengah yang perlu diwaspadai. Eskalasi tersebut tidak hanya memicu kenaikan harga minyak, tetapi juga berpotensi menekan suku bunga acuan Amerika Serikat, memicu aliran modal keluar (*capital outflow*), dan memberikan tekanan bagi ekonomi Indonesia.

Di sisi lain, harga minyak dunia masih menunjukkan tren kenaikan pada Senin, 27 April 2026. Berdasarkan data Trading Economics, kontrak berjangka minyak mentah Brent sempat menembus level US$ 107 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh penutupan Selat Hormuz di tengah macetnya dialog damai antara Amerika Serikat dan Iran. Sementara itu, harga minyak WTI juga tercatat naik di atas US$ 96 per barel.