Jakarta – Pasar saham asia bergejolak pada perdagangan Senin (9/3), dipicu lonjakan harga minyak dunia dan kekhawatiran konflik di Timur Tengah.Sebagian besar indeks utama mencatat penurunan signifikan.
Di Indonesia, indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut tertekan. Pada awal perdagangan, IHSG sempat anjlok 5,41 persen atau 410,73 poin ke level 7.174.
Bagaimana dengan bursa lainnya?
* Australia: Indeks ASX 200 merosot 3,29 persen ke 8.559, ASX 300 melemah 3,26 persen ke 8.503.
* Selandia Baru: Indeks NZX 50 turun 3,21 persen.
* China: Indeks Shanghai Composite turun sekitar 1,13 persen, CSI 300 melemah sekitar 1,65 persen.
* hong Kong: Hang Seng anjlok sekitar 2,54 persen, HS China Enterprises turun 1,80 persen.
* India: Indeks Nifty India turun 2,94 persen, Sensex melemah hampir 3 persen.
* Jepang: Nikkei 225 anjlok paling tajam, sekitar 6,92 persen.
Harga minyak mentah Brent melonjak hingga sekitar US$119 per barel, sementara minyak mentah AS jenis WTI naik hingga sekitar US$118 per barel.
Kenaikan ini dipicu pemangkasan produksi oleh sejumlah produsen minyak di Timur Tengah setelah penutupan Selat Hormuz.
Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran akan membebani perekonomian global, meningkatkan inflasi, serta menekan konsumsi dan aktivitas bisnis.
Di Jepang,tekanan diperparah oleh kejatuhan sejumlah saham teknologi besar. Korea Selatan bahkan sempat menghentikan perdagangan saham sementara setelah indeks Kospi anjlok lebih dari 8 persen.
Analis menilai tekanan pasar saat ini dipicu sentimen ketidakpastian global. Lonjakan harga energi dan risiko perang membuat investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Tekanan juga mulai merembet ke pasar global, dengan kontrak berjangka indeks saham AS ikut melemah.







