Jakarta – Pasar saham Indonesia diprediksi akan menunjukkan tren positif sepanjang tahun 2026, didorong oleh kombinasi faktor internal dan eksternal yang saling mendukung.
Keyakinan ini disampaikan oleh VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, yang melihat prospek cerah bagi pasar modal tanah air.
Pertumbuhan jumlah investor ritel, yang mencapai 19,19 juta Single Investor Identification (SID), berkat program literasi dan inklusi pasar modal, menjadi salah satu pendorong utama.
Selain itu, peningkatan aktivitas Initial Public Offering (IPO) juga memberikan amunisi tambahan bagi pertumbuhan pasar saham.
“Kami melihat dengan kondisi makro ekonomi, tensi global, hingga suku bunga bank sentral akan mendorong optimisme untuk penyerapan dana melalui publik,” ujarnya.
Kuatnya permintaan domestik turut menjadi katalis positif. Kepemilikan aset oleh investor lokal mencapai 60,9% pada Oktober 2025, mengindikasikan kepercayaan yang meningkat terhadap pasar saham dalam negeri, meskipun investor asing cenderung mengurangi posisi.
Audi memaparkan beberapa faktor utama yang akan menggerakkan IHSG di tahun 2026.
Pertama, pelonggaran suku bunga acuan, termasuk oleh Bank Indonesia (BI), akan menurunkan *cost of fund*, sehingga mendorong permintaan kredit dan ekspansi bisnis.
Wacana penggantian ketua The Fed oleh Donald Trump, yang dianggap lebih pro-pasar, juga menjadi sentimen positif, meskipun proyeksi ekonomi saat ini hanya memperkirakan satu kali pemangkasan Fed Fund Rate (FFR) pada tahun 2026.
Kedua, stabilitas ekonomi makro dalam negeri dan nilai tukar rupiah akan menjadi penopang penguatan IHSG.
Ketiga, kebijakan pengurangan defisit AS oleh Trump, terutama jika kebijakan tarif tetap menjadi andalan, akan memengaruhi pasar global.
Secara umum, Kiwoom Sekuritas meyakini bahwa penguatan IHSG akan didukung oleh *sustainability earnings* dan konsistensi likuiditas global.
Inflow dana asing diperkirakan akan positif pada 2026, sejalan dengan kebijakan pelonggaran suku bunga acuan yang menekan *yield* obligasi.
Dalam enam bulan terakhir, tercatat inflow dari investor asing sebesar Rp 35 triliun, dengan tren *shifting* ke saham-saham *blue chip*. Tren ini diperkirakan berlanjut pada 2026, asalkan stabilitas ekonomi dalam negeri terjaga, pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5%, inflasi terkendali, dan neraca tetap solid.
Emiten yang sensitif terhadap suku bunga acuan seperti sektor keuangan, properti, dan teknologi dinilai layak dipertimbangkan oleh investor. Sektor energi terbarukan juga memiliki potensi menarik.
Kiwoom Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran 9.300-9.700 sebagai target optimistis tahun 2026, dengan asumsi *Earning per Share* (EPS) tumbuh 13%-15%, tidak ada kejutan global, kurs rupiah stabil, dan dukungan likuiditas global.
Untuk target moderat, IHSG diprediksi bergerak di kisaran 8.400-8.800 pada 2026, dengan asumsi EPS tumbuh 9%-11%, likuiditas global netral, dan investor asing bersikap selektif.
Sementara itu, untuk target pesimistis, IHSG bisa saja bergerak di level 7.300-7.900 pada tahun ini, dengan asumsi EPS hanya tumbuh 7%-9%, terjadi *outflow* asing secara berkala, dan *risk premium* ikut naik.







