JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam dalam perdagangan Kamis (4/6/2026), dengan pelemahan lebih dari 4 persen. Indeks anjlok 246,14 poin atau 4,14 persen ke posisi 5.694,91.
Anjloknya IHSG hingga menembus level psikologis 6.000 menjadi sinyal kuat terjadinya krisis kepercayaan di pasar modal. Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar sedang menghadapi ketidakpastian yang cukup serius terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Menurut Hendra, pelemahan IHSG kali ini lebih didominasi oleh faktor domestik, berbeda dengan mayoritas bursa saham Asia yang justru bergerak menguat. Krisis kepercayaan ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap kebijakan ekspor satu pintu serta tekanan pada nilai tukar rupiah.
Ketidakpastian kebijakan membuat investor cenderung bersikap defensif. Investor asing dilaporkan terus menarik dananya dari pasar saham Indonesia. Hari ini saja, investor asing mencatatkan nilai jual bersih (*net sell*) mencapai Rp864 miliar, sehingga total arus keluar dana asing sejak awal tahun telah menembus angka Rp67 triliun.
Besarnya arus modal keluar ini menekan saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang indeks. Hendra menilai pasar saat ini bereaksi terhadap persepsi risiko, bukan sekadar janji mengenai fundamental ekonomi yang diklaim masih kuat.
“Ketika kepastian kebijakan berkurang dan pelaku pasar sulit memproyeksikan arah ekonomi, investor memilih untuk menunggu atau memindahkan dananya ke negara yang lebih stabil,” ujar Hendra.
Meski IHSG sempat tertekan hebat, Hendra memandang kondisi ini tidak perlu disikapi secara berlebihan. Koreksi yang terjadi justru membuat valuasi banyak saham unggulan menjadi lebih menarik bagi investor jangka panjang.
Namun, ia tetap mengingatkan bahwa dalam situasi krisis sentimen, pasar sering kali bergerak tidak rasional. Oleh karena itu, IHSG diprediksi masih memiliki potensi tekanan lanjutan untuk menguji area psikologis di kisaran 5.800 hingga 6.000.
Pasar diperkirakan masih akan mengalami volatilitas tinggi selama arus keluar dana asing berlanjut dan belum adanya katalis positif yang mampu memulihkan kepercayaan investor global. IHSG baru akan berpeluang melakukan pemulihan setelah berhasil menemukan keseimbangan baru.






