JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan Rabu (22/7/2026) dengan pelemahan tipis sebesar 0,09 persen ke level 6.334,48. Pergerakan indeks yang volatil ini dipicu oleh aksi ambil untung atau profit taking setelah IHSG sempat mencatatkan penguatan signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Sentimen pasar domestik turut dipengaruhi oleh kebijakan Bank Indonesia yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Selain itu, tekanan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi faktor tambahan yang membatasi ruang gerak indeks di zona hijau.
Analis pasar modal mencatat bahwa fluktuasi yang terjadi saat ini masih berada dalam koridor proyeksi teknikal. Meskipun ditutup terkoreksi, IHSG dinilai masih memiliki potensi untuk melanjutkan tren penguatan dalam jangka pendek, bergantung pada dinamika arus modal masuk.
Untuk perdagangan Kamis (23/7/2026), IHSG diprediksi masih akan menghadapi tekanan jual. Estimasi teknikal menunjukkan bahwa indeks bergerak dengan level support di angka 6.282 dan resistance pada level 6.355.
Potensi kelanjutan aksi profit taking masih membayangi pergerakan pasar di akhir pekan ini. Investor juga disarankan untuk tetap mencermati perkembangan geopolitik global, terutama di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung pada volatilitas harga komoditas seperti minyak mentah dan emas.
Di tengah kondisi pasar yang menantang, sejumlah emiten masuk dalam radar pantauan investor. Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) direkomendasikan untuk dicermati pada kisaran harga Rp 9.300 hingga Rp 9.525 per saham.
Selain itu, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga menjadi sorotan dengan rentang harga di level Rp 815 sampai Rp 915. Saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) turut direkomendasikan dengan target harga di kisaran Rp 2.480 hingga Rp 2.570.
Kondisi pasar modal Indonesia saat ini terjadi di tengah pemulihan sentimen di sektor aset kripto. Pekan lalu, ETF Bitcoin mencatatkan arus dana masuk bersih (net inflow) sebesar US$ 75,7 juta atau setara Rp 1,36 triliun, yang mengindikasikan mulai pulihnya minat investor institusi.
Tren ini sejalan dengan penguatan harga Bitcoin yang sempat mengalami kenaikan dua persen dalam sepekan hingga menyentuh level US$ 66.022. Namun, investor tetap disarankan untuk berhati-hati dalam menempatkan modal di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas logam mulia.
Sebagai catatan, harga emas batangan Antam juga sempat menunjukkan tren penurunan pada awal Juli 2026, yang mencerminkan dinamika pasar keuangan secara luas. Para pelaku pasar diminta untuk terus memantau indikator ekonomi makro dan kebijakan moneter yang dapat mempengaruhi arah investasi nasional ke depan.






