Bisnis
Rabu, 8 April 2026 – 16:05 WIB
Jakarta, VIVA – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mereda sementara langsung memicu lonjakan tajam di pasar kripto, dengan Bitcoin menjadi sorotan utama. Setelah pengumuman gencatan senjata dua pekan, harga Bitcoin melonjak signifikan dan sempat menembus level psikologis US$72.000 atau sekitar Rp1,22 miliar (kurs Rp17.000).
Lonjakan ini terjadi hanya dalam hitungan jam setelah pengumuman. Bitcoin tercatat naik sekitar 5 persen dan menyentuh puncak harian di kisaran US$72.753, sebelum sedikit terkoreksi namun tetap bertahan di atas US$71.000.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Ini menjadi pertama kalinya sejak pertengahan Maret aset kripto terbesar di dunia itu kembali berada di level tersebut.
Sebagaimana diketahui, dalam pernyataannya, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu. Sementara itu, pihak Iran menyebut kesepakatan ini sebagai “gencatan senjata bilateral” dan membuka ruang untuk negosiasi lanjutan.
Sebelumnya, Teheran juga telah mengajukan proposal 10 poin yang disebut Trump sebagai “dasar yang layak” untuk pembicaraan lebih lanjut.
Reaksi pasar kripto terhadap perkembangan ini terlihat sangat cepat. Selain Bitcoin, sejumlah aset digital lain seperti Ethereum, Solana, hingga XRP juga mencatat kenaikan yang cukup tajam dalam 24 jam. Namun, Bitcoin tetap menjadi indikator utama sentimen pasar.
Kenaikan harga ini tidak lepas dari perubahan drastis sentimen investor. Sebelumnya, indeks Crypto Fear and Greed sempat berada di level “ketakutan ekstrem”, mencerminkan kekhawatiran tinggi akibat konflik yang memanas.
Namun setelah adanya sinyal deeskalasi, sentimen langsung berbalik menjadi lebih optimistis, mendorong aksi beli secara luas. Meski begitu, analis mengingatkan bahwa reli ini masih bersifat jangka pendek dan sangat bergantung pada perkembangan situasi dalam dua minggu ke depan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Pertanyaan kuncinya adalah apakah negosiasi akan mengalami kemajuan dalam dua minggu ke depan. Hal itu akan menentukan apakah ini hanya reli sementara atau berkembang menjadi deeskalasi yang lebih berkelanjutan,” kata Charu Chanana, analis dari Saxo, sebagaimana dikutip dari Trending Topics, Rabu, 8 April 2026.
Di sisi lain, pergerakan pasar energi justru berlawanan arah. Harga minyak dunia anjlok tajam setelah sebelumnya melonjak akibat penutupan Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar 20 persen distribusi minyak global.
Halaman Selanjutnya
Dengan potensi pembukaan kembali jalur tersebut, harga minyak Brent turun hingga 12,9 persen dan minyak AS merosot sekitar 14,7 persen. Meski tekanan terhadap pasar energi mulai mereda, lembaga seperti US Energy Information Administration mengingatkan bahwa normalisasi tidak akan terjadi secara instan.







