Tutup
Regulasi

IPO 2025 Tak Penuhi Target: Peluang Investasi 2026 Bagaimana?

298
×

IPO 2025 Tak Penuhi Target: Peluang Investasi 2026 Bagaimana?

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan penurunan jumlah perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau penawaran saham perdana pada tahun 2025. Meskipun demikian, nilai dana yang berhasil dihimpun justru mengalami peningkatan signifikan.

Tercatat 26 perusahaan yang melantai di BEI sepanjang 2025, lebih rendah dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 41 perusahaan.

Namun, dari 26 emiten baru tersebut, BEI berhasil meraup dana segar senilai Rp 18,11 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan perolehan dana IPO tahun 2024 yang hanya mencapai Rp 14,35 triliun.

BEI sendiri telah merevisi target IPO untuk tahun 2025, dari semula 66 perusahaan menjadi 45 perusahaan. Realisasi IPO tahun ini mencapai 91% dari target yang telah disesuaikan.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Inarno Djajadi, menjelaskan bahwa penyesuaian target ini mencerminkan fokus pada penguatan emiten, bukan sekadar mengejar kuantitas.

OJK dan BEI menekankan pentingnya fundamental yang kuat, tata kelola yang baik, dan keberlanjutan usaha bagi emiten yang melakukan IPO. Hal ini bertujuan untuk menjaga kredibilitas dan melindungi kepentingan investor.

“Selain itu, terdapat calon emiten yang memilih menunggu momentum pasar yang lebih tepat dalam merealisasikan rencana IPO-nya, dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan strategi bisnis masing-masing,” ujar Inarno.

Menurut Inarno, hal ini merupakan bagian dari proses pendalaman pasar yang sehat dan berorientasi jangka panjang.

Untuk tahun 2026, BEI menargetkan 50 perusahaan dapat melantai di pasar saham.

Hingga 28 November 2025, terdapat 14 perusahaan dalam *pipeline* OJK yang berencana melakukan IPO, dengan nilai indikatif mencapai Rp 3,70 triliun.

Sementara itu, dalam *pipeline* BEI per 24 Desember 2025, terdapat sembilan rencana IPO.

Dari sembilan perusahaan tersebut, dua perusahaan memiliki aset skala kecil, empat perusahaan dengan aset skala menengah, dan tiga perusahaan merupakan perusahaan aset skala besar.

Inarno optimistis bahwa tahun 2026 berpotensi menjadi periode yang lebih aktif bagi penghimpunan dana di pasar modal.

Hal ini didukung oleh prospek pertumbuhan ekonomi domestik, stabilitas makroekonomi, dan membaiknya likuiditas.

“Kondisi tersebut berpotensi mendorong peningkatan aktivitas emisi, baik melalui IPO, obligasi, maupun aksi korporasi lainnya. Di sisi lain, OJK juga terus mengkaji dan mengembangkan instrumen pasar modal,” pungkasnya.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com – JAKARTA. Pergerakan harga emas terpantau mengalami fluktuasi sejak awal tahun 2026. Meski begitu, emas masih menjadi salah satu portofolio investasi yang dipilih investor. Berdasarkan data Trading Economics, harga emas dunia pada 2 Januari di level sekitar US$ 4.300 per troy ons. Lalu pada 28 Januari harga sempat menyentuh sekitar US$ 5.400 per troy ons. Berikutnya pada 23 Maret 2026 harga bergerak ke level sekitar US$ 4.400 per…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Kamis (16/4/2026), sejalan dengan sentimen positif dari bursa global. Berdasarkan data RTI pukul 09.07 WIB, IHSG naik 1,04% atau 79,284 poin ke level 7.702,870. Sebanyak 393 saham menguat, 135 saham melemah, dan 176 saham bergerak stagnan. Volume perdagangan tercatat mencapai 3,9 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 1,6 triliun. Baca Juga: Rupiah Dibuka…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Harga emas batangan bersertifikat Antam keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun pada Kamis (16/4/2026). Mengutip situs Logam Mulia, harga pecahan satu gram emas Antam berada di Rp 2.888.000. Harga emas Antam itu turun Rp 5.000 jika dibandingkan dengan harga pada Rabu (15/4/2026) yang berada di level Rp 2.893.000 per gram. Sementara harga buyback emas Antam berada di level Rp 2.674.000 per gram. Harga…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sekitar US$ 2,1 juta pada tahun 2026. Dana ini difokuskan untuk mendukung peningkatan operasional pabrik sekaligus menjaga daya saing Latinusa di tengah kondisi pasar yang masih menantang. Dari total anggaran tersebut, alokasi capex akan digunakan untuk machinery & equipment sebesar US$ 1,8 juta dan supporting equipment…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan, sejumlah emiten dengan arus kas kuat semakin agresif melakukan aksi korporasi berupa pembelian kembali atau buyback saham. Langkah ini dinilai menjadi salah satu strategi untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental perusahaan. Deretan Emiten Lakukan Buyback Saham Terbaru, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP)…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Jangan lewatkan dividen saham bernilai jumbo dari anak usaha Astra. Yield dividen saham ini mencapai 12% lebih. Anak usaha Astra yang akan bayar dividen jumbo ini adalah PT Astra Graphia Tbk (ASGR). Pembayaran dividen ini diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025. Adapun RUPST PT Astragraphia digelar di Catur Dharma Hall, Menara Astra, Jakarta, Rabu (15/4/2026). Besaran dividen saham ASGR sebanyak…