Tutup
Regulasi

3 Faktor Utama yang Menentukan Prospek Rupiah di Semester II-2026

92
×

3 Faktor Utama yang Menentukan Prospek Rupiah di Semester II-2026

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Nilai tukar rupiah masih tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang paruh kedua tahun 2026. Meski Bank Indonesia (BI) telah berupaya melakukan langkah stabilisasi, penguatan mata uang Garuda masih menghadapi tantangan berat dari kombinasi faktor domestik dan eksternal.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,20% ke level Rp 17.881 per dolar AS pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Dalam sepekan, rupiah telah terkoreksi 0,91%, sementara secara *year to date* (ytd), mata uang ini telah terdepresiasi sebesar 6,91% dari posisi awal tahun di level Rp 16.725 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga acuan BI belum cukup kuat untuk membalikkan tren pelemahan secara berkelanjutan. Menurutnya, tekanan rupiah datang dari berbagai arah, mulai dari besarnya impor energi, arus keluar modal (*capital outflow*), kebutuhan dolar musiman, hingga tantangan fiskal.

“Stabilitas rupiah tidak hanya bergantung pada suku bunga, tetapi juga membutuhkan pasokan devisa yang memadai dan kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi,” ujar Josua.

Josua memproyeksikan stabilitas rupiah di semester II-2026 akan sangat bergantung pada tiga syarat utama: meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah untuk menekan harga minyak, efektivitas kebijakan moneter BI dalam menjaga daya tarik aset rupiah, serta penguatan disiplin fiskal dan kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, ia mewanti-wanti potensi rupiah menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS.

Senada dengan hal tersebut, Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menyoroti lima faktor penentu pergerakan rupiah ke depan. Kelimanya meliputi arah suku bunga global, kredibilitas kebijakan BI, kinerja sektor eksternal, persepsi risiko pasar terhadap Indonesia, serta kualitas kebijakan fiskal pemerintah.

“Belanja pemerintah harus mampu memperkuat produktivitas, ekspor, dan basis penerimaan negara agar rupiah mendapatkan dukungan fundamental yang lebih kokoh,” ungkap Syafruddin.

Terkait proyeksi hingga akhir tahun, Josua memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp 17.300 hingga Rp 17.900 per dolar AS. Dalam skenario optimistis yang melibatkan stabilisasi harga minyak dan arus modal masuk, rupiah berpeluang menguat ke level Rp 17.000–Rp 17.300.

Namun, pandangan lebih konservatif datang dari Syafruddin yang memproyeksikan rupiah akan bergerak lebih lemah di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.400 per dolar AS pada paruh kedua tahun ini. Estimasi ini sejalan dengan sinyal pasar *forward* dan *non-deliverable forward* (NDF) yang menempatkan nilai tukar berada di atas level Rp 18.000 per dolar AS hingga akhir tahun.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memberikan tanggpan atas dampak rencana penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Tata Kelola Ekspor Sumber Daya Alam (SDA). Melalui beleid tersebut, aktivitas ekspor sejumlah komoditas SDA bakal melalui satu pintu. Sekretaris Perusahaan Vale Indonesia, Ranty Astari Rachman mengatakan, pihaknya memahami bahwa pemerintah berencana menerbitkan PP Tata Kelola Ekspor SDA untuk memperkuat tata kelola…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Saham bank berkapitalisasi besar alias big banks selama sepekan lalu masih menjadi saham yang paling banyak dijual asing. Aksi jual asing tersebut membuat pergerakan saham emiten big banks kompak ikut menurun. Diantara saham big banks yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), saham yang turun paling tajam adalah saham…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Megalestari Epack Sentosaraya Tbk (EPAC) akan berganti kepemilikan. Perusahaan yang bergerak di bidang industries barang dari plastik untuk pengemasan ini menjelaskan, rencana tersebut setelah pihaknya mengetahui bahwa pemegang saham pengendali lama telah menandatangani perjanjian untuk menjual seluruh sahamnya. “Kami sampaikan bahwa pada hari Senin, 25 Mei 2026, telah dilakukan penandatanganan Pengikatan Jual Beli…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) membukukan penurunan laba bersih sepanjang kuartal I tahun 2026. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis akhir pekan lalu, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 4,34 triliun, menurun 21,8% secara tahunan. Ini sejalan dengan laba periode berjalan turun sebesar 17,57% secara year on year (yoy) menjadi Rp 6,05 triliun. Penurunan laba bersih…