Jakarta – Kesehatan mental anak-anak di Indonesia menjadi sorotan utama. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan kasus tekanan psikologis pada anak yang seringkali terabaikan.
Hasil skrining Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) terhadap 7 juta anak usia 7-17 tahun mengungkap fakta mencengangkan.
Sebanyak 4,8 persen atau 363.326 anak menunjukkan gejala depresi. Sementara itu, 4,4 persen atau 338.316 anak lainnya mengalami gejala kecemasan.
Angka ini lima kali lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa dan lansia.
Gangguan kesehatan mental pada anak seringkali tidak kasat mata.Orang tua kerap kali baru menyadari masalah ini saat kondisinya sudah memburuk.
Tanda-tandanya bisa berupa hilangnya minat pada aktivitas yang disukai, menarik diri dari pergaulan, mudah tersinggung, atau menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar.
Data dari KPAI dan Healing119.id mengungkap bahwa pemicu utama krisis kesehatan mental anak seringkali berasal dari lingkungan terdekat.Konflik keluarga dan pola pengasuhan yang tidak sehat menyumbang 24-46 persen kasus. faktor lain meliputi perundungan (14-18 persen),masalah psikologis individual (8-26 persen),dan tekanan akademik (7-16 persen).
kesehatan mental anak tidak dapat dipisahkan dari dinamika keluarga, lingkungan sekolah, dan cara anak menghadapi tuntutan sosial.






