Jakarta – Pemerintah Indonesia tetap memegang teguh komitmen untuk menjaga defisit anggaran di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Langkah ini diambil sebagai bentuk disiplin fiskal di tengah tren global, di mana banyak negara yang melonggarkan batas defisit justru merasakan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, menegaskan bahwa ketangguhan ekonomi Indonesia saat ini menjadi bukti solidnya arsitektur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurutnya, kombinasi antara disiplin fiskal dan pertumbuhan ekonomi adalah kunci kekuatan Indonesia dibandingkan negara lain yang kebijakannya kurang efektif.
“Banyak negara tidak lagi mematuhi defisit fiskal di bawah 3%, namun pertumbuhan ekonomi mereka justru lebih rendah. Kombinasi disiplin fiskal dan pertumbuhan ini menunjukkan kekuatan Indonesia,” ujar Suahasil dalam Seminar ASEAN Regional Economic Outlook and Fiscal Policy di Jakarta, Senin (25/5).
Keberhasilan pengelolaan APBN 2025 terbukti mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional hingga menyentuh angka 5,11%.
Efisiensi anggaran pun diperkuat melalui instruksi Presiden Prabowo Subianto di awal tahun berupa pemangkasan 9% anggaran di seluruh lini birokrasi.
Kebijakan efisiensi tersebut sukses menghemat keuangan negara hingga Rp170 triliun tanpa mengganggu jalannya operasional pemerintah.
Dana tersebut menjadi instrumen penting dalam menjaga ketahanan anggaran melalui kebijakan yang adaptif.
Ke depan, Kemenkeu memastikan tetap konsisten menerapkan posisi fiskal yang pruden. Defisit anggaran untuk tahun 2026 diproyeksikan berada di kisaran 2%, sementara target untuk tahun 2027 dirancang dalam rentang 1,8% hingga 2,4%.
Dalam upaya mengejar target pertumbuhan ekonomi 8%, Kemenkeu akan memfokuskan kapasitas fiskal pada sektor infrastruktur dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Fokus APBN nantinya akan berpusat pada perlindungan sosial serta layanan publik, sedangkan pengelolaan investasi strategis akan dialihkan melalui Danantara.







