JAKARTA – Kinerja reksadana campuran terpantau melambat pada Maret 2026. Setelah sempat mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 1,44% pada Februari 2026, instrumen investasi ini justru mencatatkan koreksi imbal hasil sebesar 5,62% secara bulanan (*month on month*).
Data Infovesta menunjukkan adanya tekanan yang signifikan pada kinerja reksadana campuran sepanjang bulan lalu. Para pelaku pasar menilai, penurunan ini dipicu oleh sejumlah risiko yang kerap diabaikan oleh investor, khususnya terkait pemahaman mengenai diversifikasi aset.
Banyak investor masih terjebak pada persepsi bahwa reksadana campuran otomatis memiliki tingkat risiko rendah hanya karena labelnya. Padahal, profil risiko instrumen ini sangat bergantung pada komposisi aset di dalam portofolionya. Label “campuran” tidak bisa dijadikan jaminan bahwa tingkat risiko yang ditawarkan akan selalu rendah.
Terdapat tiga risiko utama yang perlu diwaspadai investor pada reksadana campuran. Pertama adalah ketidaksesuaian alokasi aset dengan profil risiko investor. Beberapa produk reksadana campuran memiliki porsi saham yang cukup agresif, sehingga tetap memiliki volatilitas yang tinggi.
Kedua, adanya risiko likuiditas yang muncul jika portofolio reksadana mengandung obligasi atau saham dengan likuiditas terbatas. Ketiga, risiko konsentrasi tersembunyi, di mana diversifikasi terlihat luas secara instrumen, namun eksposur ekonominya masih terkonsentrasi pada sektor atau tema tertentu.
Oleh karena itu, investor disarankan untuk tidak hanya mengandalkan kinerja historis dalam memilih produk. Pemahaman mendalam mengenai sumber risiko yang mendasari pergerakan imbal hasil menjadi kunci penting bagi investor agar tetap tenang saat menghadapi fluktuasi pasar.







