Tutup
Regulasi

Kinerja Reksadana Campuran Menurun, Investor Perlu Waspadai Risiko Tersembunyi

122
×

Kinerja Reksadana Campuran Menurun, Investor Perlu Waspadai Risiko Tersembunyi

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Kinerja reksadana campuran terpantau melambat pada Maret 2026. Setelah sempat mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 1,44% pada Februari 2026, instrumen investasi ini justru mencatatkan koreksi imbal hasil sebesar 5,62% secara bulanan (*month on month*).

Data Infovesta menunjukkan adanya tekanan yang signifikan pada kinerja reksadana campuran sepanjang bulan lalu. Para pelaku pasar menilai, penurunan ini dipicu oleh sejumlah risiko yang kerap diabaikan oleh investor, khususnya terkait pemahaman mengenai diversifikasi aset.

Banyak investor masih terjebak pada persepsi bahwa reksadana campuran otomatis memiliki tingkat risiko rendah hanya karena labelnya. Padahal, profil risiko instrumen ini sangat bergantung pada komposisi aset di dalam portofolionya. Label “campuran” tidak bisa dijadikan jaminan bahwa tingkat risiko yang ditawarkan akan selalu rendah.

Terdapat tiga risiko utama yang perlu diwaspadai investor pada reksadana campuran. Pertama adalah ketidaksesuaian alokasi aset dengan profil risiko investor. Beberapa produk reksadana campuran memiliki porsi saham yang cukup agresif, sehingga tetap memiliki volatilitas yang tinggi.

Kedua, adanya risiko likuiditas yang muncul jika portofolio reksadana mengandung obligasi atau saham dengan likuiditas terbatas. Ketiga, risiko konsentrasi tersembunyi, di mana diversifikasi terlihat luas secara instrumen, namun eksposur ekonominya masih terkonsentrasi pada sektor atau tema tertentu.

Oleh karena itu, investor disarankan untuk tidak hanya mengandalkan kinerja historis dalam memilih produk. Pemahaman mendalam mengenai sumber risiko yang mendasari pergerakan imbal hasil menjadi kunci penting bagi investor agar tetap tenang saat menghadapi fluktuasi pasar.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Penghimpunan dana di pasar modal masih semarak, terutama aksi penambahan modal dengan skema memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 17 April 2026, terdapat tiga perusahaan tercatat yang telah menerbitkan rights issue dengan total nilai Rp 3,75 triliun. Beberapa emiten baru mengantongi persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Harga emas dan perak melanjutkan penguatan pada pekan lalu, tetapi kenaikan ini dinilai belum mencerminkan perubahan tren di tengah ketidakpastian geopolitik global yang masih tinggi. Berdasarkan data Trading Economics, pada akhir perdagangan Jumat (17/4/2026), harga emas di pasar spot ditutup di level US$ 4.833 per ons troi, naik 1,72% dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara itu, harga perak secara mingguan menguat…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Kinerja reksadana campuran berbalik arah pada Maret 2026, dari semula mencatatkan imbal hasil positif menjadi tertekan. Berdasarkan data Infovesta, imbal hasil reksadana campuran pada Maret 2026 tercatat turun 5,62% secara bulanan. Padahal pada Februari 2026, kinerjanya masih tumbuh 1,44%. Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan,…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com – JAKARTA. PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) bakal membagikan dividen tunai tahun buku 2025 senilai total Rp 4,07 triliun kepada para pemegang saham. Keputusan tersebut merujuk hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Perseroan yang digelar pada Jumat (17/4/2026) lalu. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, dikutip Minggu (19/4/2026), manajemen CIMB Niaga menyebut nilai dividen yang dibagikan maksimal setara 60%…