Tutup
Regulasi

Laba Antam Tembus Rp 3,6 Triliun pada Kuartal I 2024

58
×

Laba Antam Tembus Rp 3,6 Triliun pada Kuartal I 2024

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) atau Antam mencatatkan lonjakan kinerja keuangan yang signifikan pada kuartal I 2026. Meski dihadapkan pada tantangan global berupa fluktuasi harga komoditas dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, perseroan sukses membukukan laba periode berjalan sebesar Rp 3,66 triliun.

Capaian tersebut melonjak 58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 2,32 triliun. Pertumbuhan laba ini sejalan dengan peningkatan *Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization* (EBITDA) sebesar 55 persen menjadi Rp 5,05 triliun dari sebelumnya Rp 3,26 triliun.

Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, menjelaskan bahwa keberhasilan ini didorong oleh fundamental operasional yang kuat, terutama pada segmen nikel, penguatan *sourcing* emas, serta mulai beroperasinya pabrik *smelter grade alumina* (SGA).

“Antam berkomitmen menerapkan *good mining practices* dan *operational excellence* di seluruh lini bisnis guna mewujudkan pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Untung, Rabu (29/4).

Selain laba, Antam juga mencatatkan kenaikan laba kotor sebesar 54 persen menjadi Rp 5,62 triliun, sementara laba usaha tumbuh 67 persen mencapai Rp 4,50 triliun. Peningkatan efisiensi melalui pengendalian biaya yang disiplin menjadi kunci utama dalam menjaga profitabilitas perusahaan di tengah dinamika pasar.

Dari sisi neraca keuangan, total aset Antam meningkat 31 persen menjadi Rp 63,30 triliun, diikuti kenaikan ekuitas sebesar 17 persen menjadi Rp 40,41 triliun. Posisi kas dan setara kas pun tercatat sehat di angka Rp 9,04 triliun.

Sepanjang kuartal I 2026, Antam membukukan penjualan bersih sebesar Rp 29,32 triliun, tumbuh 12 persen secara tahunan. Penjualan domestik mendominasi sebesar 97 persen dari total penjualan, yang mencerminkan fokus perusahaan dalam memperkuat basis pelanggan dalam negeri.

Segmen emas menjadi kontributor terbesar dengan porsi 81 persen atau senilai Rp 23,89 triliun. Volume penjualan emas mencapai 8.464 kg. Untuk menjaga keberlanjutan pasokan, Antam juga telah menjalin kerja sama strategis melalui *Gold Sales & Purchase Agreement* (GSPA) dengan Merdeka Grup.

Sementara itu, segmen nikel memberikan kontribusi Rp 4,47 triliun, naik 19 persen dibandingkan tahun lalu. Produksi bijih nikel tercatat sebesar 3,88 juta *wet metric ton* (wmt) yang seluruhnya terserap pasar domestik.

Segmen bauksit dan alumina juga menunjukkan tren positif dengan kontribusi Rp 879,14 miliar atau meningkat 24 persen. Optimalisasi pabrik *Chemical Grade Alumina* (CGA) mendorong produksi alumina naik 13 persen menjadi 49.566 ton.

Dengan fondasi yang solid, Antam optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan di sepanjang tahun 2026 melalui strategi yang terukur, prudent, dan berorientasi pada nilai tambah bagi pemegang saham.