Tutup
Regulasi

Merdeka Battery (MBMA) ubah perjanjian pembiayaan senilai US$ 108,51 juta

313
×

Merdeka Battery (MBMA) ubah perjanjian pembiayaan senilai US$ 108,51 juta

Sebarkan artikel ini

Jakarta – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) melakukan perubahan signifikan dalam perjanjian pembiayaannya dengan mengalihkan skema awal mudharabah menjadi pendanaan senilai US$ 108,51 juta. Dana ini akan digunakan oleh PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI).

Perubahan ini diumumkan MBMA melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (2 Januari 2026).

Presiden Direktur MBMA, Teddy Nuryanto Oetomo menjelaskan bahwa awalnya, pembiayaan antara MBMA dan MTI menggunakan akad mudharabah sejak 28 Agustus 2025.

Namun, pada 31 Desember 2025, disepakati perubahan ketentuan jumlah dana pembiayaan mudharabah menjadi US$ 108,51 juta.

“Besarnya nisbah bagi hasil yang dibagikan kepada perusahaan dari hasil kegiatan usaha MTI menjadi 23% dari pendapatan yang dibagihasilkan,” terang Teddy. Indikasi atau proyeksi bagi hasil diperkirakan setara dengan Term SOFR 3 bulan + 5,26% per tahun, dengan penambahan ketentuan terkait mata uang.

Dana pembiayaan mudharabah ini akan digunakan MTI untuk menggantikan dana dari perjanjian fasilitas senior yang ada.

Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk membayar sebagian pokok pinjaman yang sebelumnya digunakan untuk membiayai belanja modal, biaya konstruksi, dan biaya operasional proyek.

Teddy menegaskan bahwa transaksi ini dilakukan untuk mengubah ketentuan jumlah dana pembiayaan mudharabah dan besaran nisbah bagi hasil pada akad mudharabah.

Meskipun nilai transaksi ini tidak mencapai 20% dari nilai ekuitas, sehingga tidak dianggap sebagai transaksi material, transaksi ini tetap dikategorikan sebagai afiliasi karena MBMA memiliki 80% saham MTI.

Pada penutupan perdagangan Jumat (2 Januari 2026), harga saham MBMA mengalami kenaikan signifikan sebesar 8,77%, ditutup pada level Rp 620 per saham.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sekitar US$ 2,1 juta pada tahun 2026. Dana ini difokuskan untuk mendukung peningkatan operasional pabrik sekaligus menjaga daya saing Latinusa di tengah kondisi pasar yang masih menantang. Dari total anggaran tersebut, alokasi capex akan digunakan untuk machinery & equipment sebesar US$ 1,8 juta dan supporting equipment…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan, sejumlah emiten dengan arus kas kuat semakin agresif melakukan aksi korporasi berupa pembelian kembali atau buyback saham. Langkah ini dinilai menjadi salah satu strategi untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental perusahaan. Deretan Emiten Lakukan Buyback Saham Terbaru, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP)…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Jangan lewatkan dividen saham bernilai jumbo dari anak usaha Astra. Yield dividen saham ini mencapai 12% lebih. Anak usaha Astra yang akan bayar dividen jumbo ini adalah PT Astra Graphia Tbk (ASGR). Pembayaran dividen ini diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025. Adapun RUPST PT Astragraphia digelar di Catur Dharma Hall, Menara Astra, Jakarta, Rabu (15/4/2026). Besaran dividen saham ASGR sebanyak…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya terkoreksi setelah mencatat penguatan selama lima hari berturut-turut. Meski sempat dibuka di zona hijau, tekanan jual membuat IHSG berbalik arah dan ditutup melemah pada akhir perdagangan Rabu (15/4/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI, IHSG turun 0,68% atau terkoreksi 52,36 poin ke level 7.623,58. Baca Juga: Reli IHSG Terhenti SumbarSumbarbisnis.com Sell Asing…