Pesisir Selatan – Pedagang di Pesisir Selatan mengeluhkan kondisi Pasar Inpres Painan yang pembangunannya tak kunjung usai. Mereka terpaksa berjualan di kios penampungan sementara yang dinilai tidak nyaman.
Ilall, seorang pedagang, mengungkapkan kerinduannya akan pasar yang modern, indah, nyaman, dan bersih. Ia menyayangkan proyek pembangunan yang terus tertunda.
Akibatnya, jalan umum yang seharusnya menjadi fasilitas warga kini tertutup oleh kios penampungan. Kondisi ini membuat warga sekitar merasa tidak nyaman.
“Kami berharap Pasar Inpres painan segera selesai dan dapat menampung para pedagang,” ujar Ilall, Selasa (24/3/2026). Ia juga berharap pasar baru memiliki fasilitas rekreasi seperti wahana permainan anak-anak.
Pasar Inpres Painan dibangun pada era Bupati Rusma Yul Anwar dengan anggaran Rp53,5 miliar dari Kementerian PU. Namun, proyek ini terbengkalai setelah berjalan sekitar 75 persen hingga akhir masa jabatan bupati pada tahun 2024.
Bupati Hendrajoni berkomitmen untuk melanjutkan pembangunan Pasar Inpres Painan demi kepastian nasib ratusan pedagang dan menggerakkan perekonomian daerah.
Dengan dukungan dana Rp27 miliar dari Kementerian PU,Pasar Inpres painan akan segera dituntaskan. Bangunan tiga lantai ini nantinya diperkirakan dapat menampung 553 pedagang.
Kepala Dinas Perdagangan Pesisir Selatan,Afriman Julta,memastikan pengerjaan pembangunan pasar terus dikebut. Ia meminta pedagang untuk bersabar.
“kita sedang siapkan proses relokasi pedagang yang saat ini berada di tempat penampungan. Jika Pasar Inpres rampung, segera pedagang kita pindahkan,” kata Afriman Julta.
Kabar kepindahan ke Pasar Inpres Painan disambut gembira oleh pedagang. Namun, mereka juga khawatir tidak mendapatkan toko di pasar yang baru.
Rustam, seorang pedagang di kios sementara, menekankan pentingnya pendataan yang akurat dan pemindahan yang sesuai porsi. ia berharap tidak ada pedagang yang tiba-tiba muncul namanya.
Rustam juga berharap Bupati Pesisir Selatan melalui Dinas Perdagangan tidak memberatkan pedagang dengan sewa atau retribusi, terutama di tengah kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat yang sedang lesu.







