WASHINGTON DC – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan ketangguhan ekonomi Indonesia di hadapan para pemangku kepentingan global dalam kunjungan kerja perdananya ke Washington DC, Amerika Serikat, pada 13-17 April 2026.
Kehadiran Purbaya di Amerika Serikat bertujuan menghadiri Pertemuan Musim Semi Dana Moneter Internasional dan Grup Bank Dunia (IMF-World Bank Spring Meeting) serta pertemuan pertama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 (1st FMCBG Meeting).
Di sela-sela agenda tersebut, Purbaya bersama Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menemui sejumlah investor global, termasuk Morgan Stanley Asset Management dan Fidelity. Pertemuan ini dilakukan untuk memaparkan perkembangan ekonomi Indonesia sekaligus menarik minat investasi asing.
Purbaya menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah gejolak geopolitik global. Menurutnya, stabilitas tersebut didukung oleh pertumbuhan yang solid, tingkat inflasi yang rendah, serta rasio utang dan defisit APBN yang terjaga disiplin di bawah 3% terhadap PDB.
“Indonesia kini menggeser fokus pembangunan. Kami tidak hanya menjaga stabilitas, tetapi juga mengejar pertumbuhan yang lebih produktif, bernilai tambah, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas,” ujar Purbaya dalam seminar bertajuk ‘Supporting Economic Recovery in Middle-Income Countries’.
Transformasi ekonomi ini, lanjut Purbaya, dijalankan melalui tiga pilar utama: investasi, industrialisasi, dan produktivitas. Pemerintah terus mendorong hilirisasi industri, penguatan sektor manufaktur, serta peningkatan efisiensi sumber daya manusia agar ekonomi lebih terdiversifikasi dan tangguh.
Terkait kebijakan fiskal, Purbaya menjelaskan bahwa APBN tetap difungsikan sebagai *shock absorber* atau peredam guncangan untuk melindungi daya beli masyarakat, termasuk dalam menstabilkan harga BBM subsidi. Pemerintah juga mengoptimalkan sinergi kebijakan fiskal, moneter, serta peran Danantara untuk mobilisasi investasi di luar APBN.
Di forum G20, Purbaya memaparkan bahwa keberhasilan ekonomi Indonesia merupakan buah dari reformasi struktural yang telah dilakukan jauh sebelum krisis terjadi. Langkah tersebut meliputi efisiensi birokrasi, penyederhanaan perizinan, hingga pengurangan hambatan impor energi.
Pemerintah juga mulai memetakan risiko sistemik terkait pesatnya adopsi kecerdasan buatan (AI). Purbaya menegaskan pihaknya mewaspadai sejumlah dampak, seperti potensi gelembung aset, gangguan pasar tenaga kerja, hingga erosi fiskal akibat aktivitas ekonomi digital lintas negara.
Menutup rangkaian kunjungan, Purbaya optimistis target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 sebesar 5,4% hingga 6% dapat tercapai. Keyakinan tersebut didasari oleh surplus neraca perdagangan, konsumsi rumah tangga yang kuat, serta kebijakan hilirisasi yang konsisten.
Sejumlah petinggi lembaga multilateral memberikan apresiasi atas capaian tersebut. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, bahkan menyebut Indonesia sebagai salah satu *bright spot* atau titik terang di tengah perekonomian global yang menantang.
Selain dengan petinggi IMF, Purbaya juga melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Grup Bank Dunia Ajay Banga, Sekjen OECD Mathias Cormann, serta Menteri Keuangan dari Tiongkok, Polandia, dan Australia. Fokus utamanya adalah memacu produktivitas untuk mencapai target pertumbuhan 8% dan membawa Indonesia menjadi negara berpenghasilan tinggi pada 2045.







