Semarang – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pembersihan lumpur di wilayah Aceh yang terdampak bencana. Masyarakat akan dilibatkan melalui program padat karya.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan penanganan lumpur menjadi fokus utama. Lumpur dinilai menghambat aktivitas dan pemulihan ekonomi warga.
“Kesulitan di Aceh itu lumpur, terutama di Tamiang dan Aceh Barat Daya,” ujar Dody saat ditemui di Rest Area KM 379 Batang, Semarang, Jawa Tengah, sabtu (28/3/2026).
Kementerian PU mengandalkan skema padat karya untuk mempercepat pembersihan. Cara ini dinilai efektif mempercepat penanganan dan memberi manfaat ekonomi langsung.
“Fokus kita ke depan adalah pembersihan lumpur di permukiman dengan pola padat karya,” imbuhnya.
Program ini sudah berjalan sejak awal tahun, meski belum masif di seluruh wilayah.
Masyarakat dilibatkan langsung untuk memindahkan lumpur dari rumah ke titik kumpul. Lumpur kemudian diangkut dengan alat berat pemerintah.”Masyarakat kita imbau keluarkan lumpur dari rumah ke titik tertentu,nanti kita tarik pakai dozer atau diangkut truk.Mereka kerja, kita ukur per kubik, lalu kita bayar,” jelas Dody.Pelaksanaan program ini menghadapi tantangan, salah satunya keterbatasan lahan untuk hunian sementara (huntara).
Dody mengakui pencarian lahan yang sesuai tidak mudah dan sering memerlukan proses tambahan. Lahan yang tersedia kerap berupa perkebunan aktif, seperti kebun sawit, sehingga butuh pembersihan terlebih dahulu.







