Tutup
Regulasi

Saham Konsumer Potensial 2026: Analis Ungkap Pilihan Terbaik!

503
×

Saham Konsumer Potensial 2026: Analis Ungkap Pilihan Terbaik!

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Sektor konsumer diproyeksikan bangkit pada 2026 seiring dengan pulihnya permintaan dan peningkatan volume penjualan emiten.

Analis CGS International, Baruna Arkasatyo, melihat adanya potensi pemulihan bertahap pada konsumsi domestik Indonesia setelah mengalami perlambatan dalam beberapa kuartal terakhir.

Meskipun mencapai tingkat pertumbuhan konsumsi pra-pandemi di atas 5% bukan perkara mudah, target tersebut dinilai masih realistis untuk dicapai pada tahun 2026.

Baruna menekankan bahwa penyelesaian masalah struktural membutuhkan waktu lebih lama. Oleh karena itu, peran dan dukungan pemerintah saat ini menjadi sangat penting.

Segmen masyarakat berpendapatan menengah ke bawah diperkirakan akan menjadi yang pertama merasakan perbaikan mulai paruh pertama 2026.

Pemulihan ini akan didorong oleh agenda pro pertumbuhan pemerintah yang tercermin dalam APBN 2026, disiplin fiskal, serta berbagai program unggulan.

Selanjutnya, perbaikan konsumsi diperkirakan akan merambat ke segmen menengah ke atas menjelang akhir tahun 2026.

“Emiten yang menyasar pasar *mass market* berpotensi mencatat pemulihan lebih awal,” tulis Baruna dalam risetnya.

Sektor produsen makanan seperti CMRY, JPFA, CPIN, dan makanan ringan seperti MYOR diprediksi tetap tangguh seiring pemulihan permintaan dan kehati-hatian konsumen dalam berbelanja.

Dari sisi profitabilitas, CGS International memperkirakan peningkatan pendapatan dan margin yang signifikan, terutama karena basis yang rendah pada 2025.

Margin laba kotor (GPM) sektor *consumer staples* diproyeksikan meningkat sekitar 50 basis poin secara tahunan, sementara GPM sektor *consumer discretionary* diperkirakan naik 43 basis poin pada 2026.

Peningkatan ini didorong oleh penurunan harga komoditas utama serta perbaikan daya beli, yang memungkinkan pertumbuhan volume penjualan dengan kebutuhan promosi yang lebih minim.

Kombinasi pertumbuhan pendapatan dan perbaikan margin diperkirakan mampu mencatat pertumbuhan laba per saham (EPS) sektor konsumer sebesar 14% secara tahunan pada 2026, dengan CAGR EPS 2025–2027 mencapai 13%.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan EPS IHSG yang diperkirakan sebesar 8% pada 2026.

Baruna menilai MYOR berpotensi memasuki titik balik pertumbuhan penjualan dan perbaikan margin mulai kuartal IV-2025.

Saham MYOR saat ini diperdagangkan pada valuasi yang relatif murah, yakni 15,0 kali P/E tahun 2026, dengan proyeksi pertumbuhan EPS tahun 2026 sebesar 18% secara tahunan.

Sementara itu, MAPA diperkirakan mencatat salah satu pertumbuhan EPS tertinggi di sektor konsumer, yakni sekitar 25% *year-on-year* (yoy) pada tahun 2026.

Inisiatif konsolidasi MAPA di sejumlah pasar luar negeri diyakini akan mendorong peningkatan margin EBIT sekaligus memperkuat arah pertumbuhan laba.

Adapun CMRY diproyeksikan membukukan CAGR EPS sebesar 23% sepanjang periode 2024-2027, ditopang oleh konsistensi inovasi produk serta kualitas manajemen yang solid.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai prospek emiten konsumer masih ditopang oleh pertumbuhan ekonomi domestik yang relatif stabil di kisaran 5%.

Inflasi yang terjaga dalam target sekitar 2,5% dinilai membantu menjaga daya beli rumah tangga. Perkembangan digitalisasi dan *e-commerce* juga semakin mendukung konsumsi domestik. Emiten berbasis *fast-moving consumer goods* (FMCG) kian agresif mengoptimalkan strategi penjualan melalui pendekatan *omni-channel*.

Dari sisi strategi perusahaan, emiten konsumer tidak hanya mengandalkan *omni-channel*, tetapi juga berfokus pada peningkatan efisiensi produksi dan distribusi guna menekan biaya.

“Upaya ini diharapkan dapat memperbaiki margin laba bersih,” ucap Nafan.

Nafan menambahkan, emiten seperti UNVR terus melakukan inovasi produk di segmen FMCG, ditopang oleh kekuatan merek yang solid, serupa dengan grup Indofood.

Namun demikian, terdapat pula sejumlah sentimen yang berpotensi menjadi tekanan. Pergerakan depresiasi rupiah berisiko meningkatkan biaya impor bahan baku.

Di samping itu, tingkat persaingan di sektor FMCG tergolong sangat ketat. Faktor eksternal seperti perlambatan ekonomi global juga dapat menahan permintaan, terutama bagi emiten konsumer yang memiliki porsi ekspor.

Rekomendasi Saham

Nafan merekomendasikan *accumulative buy* saham MYOR di target harga Rp 2.420 per saham dan *Add* saham UNVR dengan target harga di posisi Rp 2.930 per saham.

Sementara itu, Baruna menaikkan rekomendasi sektor konsumer dari netral menjadi *overweight* karena pemulihan konsumsi yang bertahap pada 2026 dan dukungan pertumbuhan ekonomi.

“Kami memperkirakan *consumer staples* akan menjadi pemenang awal dari membaiknya konsumsi pada semester I-2026, diikuti oleh emiten ritel menengah ke atas pada semester II-2026,” jelas Baruna.

Baruna menyarankan *Add* saham CMRY, MAPA, dan MYOR di target harga masing-masing Rp 7.700, Rp 1.010, dan Rp 2.740 per saham.

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com JAKARTA. Harga emas batangan bersertifikat Antam keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melonjak tinggi pada Sabtu (10/1/2026). Mengutip situs Logam Mulia, Sabtu (10/1/226), harga pecahan satu gram emas Antam berada di Rp 2.602.000. Harga emas Antam itu melejit Rp 25.000 jika dibandingkan dengan harga pada Jumat (9/1/2026) yang berada di level Rp 2.577.000 per gram. Sementara harga buyback emas Antam berada di level Rp…

Regulasi

SumbarSumbarbisnis.com NEW YORK. Indeks utama bursa saham Wall Street ditutup menguat di akhir pekan ini, Jumat (9/1/2026). Indeks S&P 500 bahkan menguat ke penutupan tertinggi sepanjang masa alias all time high didorong oleh saham Broadcom dan produsen chip lainnya. Jumat (9/1/2026), indeks S&P 500 naik 0,65% dan mengakhiri sesi di level 6.966,28. Nasdaq menguat 0,82% menjadi 23.671,35, sementara Dow Jones Industrial Average naik 0,48% menjadi…