Tutup
EkonomiPerbankanPerdagangan

Surabaya Pacu UMKM Inovasi Kemasan, Redam Kenaikan Harga

166
×

Surabaya Pacu UMKM Inovasi Kemasan, Redam Kenaikan Harga

Sebarkan artikel ini
harga-plastik-naik-60-persen-di-surabaya,-umkm-didesak-ganti-kemasan
Harga Plastik Naik 60 Persen di Surabaya, UMKM Didesak Ganti Kemasan

Surabaya – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mendorong pelaku Usaha mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk berinovasi dalam pengemasan produk.

Langkah ini diambil menyusul lonjakan harga plastik yang mencapai 60 persen akibat gejolak pasokan global.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopumdag) Kota Surabaya, Mia Santi Dewi, menjelaskan kenaikan harga plastik dipicu oleh melonjaknya harga minyak sebagai bahan baku utama.

Konflik di Timur Tengah juga memperparah situasi ini.

“Kenaikan harga plastik saat ini cukup signifikan, sekitar 30 sampai 60 persen,” ujar mia, Selasa (7/4).

“Ini dipicu pasokan global dan harga energi dunia yang tak terhindarkan.”

Pemkot Surabaya berupaya menstabilkan harga produk dengan mendampingi UMKM beralih ke bahan alternatif yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.

“Dinkopumdag Surabaya secara rutin memantau harga dan ketersediaan, serta mendampingi UMKM di lapangan,” kata mia.

Inovasi kemasan dinilai krusial agar pelaku usaha tidak terjepit antara kenaikan biaya modal dan penurunan daya beli masyarakat.

“Kami mendampingi UMKM untuk berinovasi pada kemasan, tidak lagi menggunakan plastik, tetapi bahan lain yang bisa menekan biaya produksi,” imbuhnya.

Selain substitusi kemasan, Pemkot Surabaya menginstruksikan perubahan pola distribusi.

Salah satunya dengan meminimalkan penggunaan kemasan plastik ukuran kecil (sachet) dan beralih ke penjualan kuantitas besar.

“Perubahan kemasan menjadi yang paling signifikan untuk dilakukan,” tegas Mia.

Dinkopumdag Surabaya telah memantau tren kenaikan harga plastik di sejumlah toko dan pasar tradisional.

Untuk meredam gejolak harga, Pemkot Surabaya mengintervensi rantai pasok dengan menghubungkan pelaku usaha langsung ke distributor utama.

“Kita komunikasi dengan distributor, kemudian kita hubungkan dengan para pedagang atau UMKM kita. Jadi lebih memutus rantai pasoknya supaya gak terlalu panjang,” jelasnya.

Meski belum banyak keluhan dari pelaku usaha, Pemkot Surabaya memprioritaskan langkah antisipatif agar roda ekonomi kelas menengah ke bawah tetap berjalan.”Kami terus mendampingi UMKM agar produksi tetap berjalan, harga tidak naik, daya beli masyarakat tidak menurun, dan pendapatan mereka tetap stabil,” pungkas Mia.