JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp 18.015 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis pagi. Pelemahan mata uang Garuda ini memicu kekhawatiran terkait beban utang pemerintah yang berpotensi membengkak.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui bahwa pelemahan rupiah ke level Rp 18.000 per dolar AS berdampak langsung pada besaran pembayaran utang negara. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kupon surat utang yang dibayarkan pemerintah bersifat *fixed rate* atau konstan, sehingga masih dalam koridor perhitungan yang telah disiapkan.
“Ini masih dalam *range* perhitungan kami sebelumnya,” ujar Purbaya saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Pemerintah sendiri telah menyusun simulasi perhitungan anggaran menghadapi kenaikan harga minyak mentah dan pelemahan kurs. Sebagai catatan, asumsi nilai tukar rupiah dalam APBN 2026 dipatok di angka Rp 16.500 per dolar AS.
Meski enggan merinci simulasi nilai tukar yang digunakan, Purbaya meyakini fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya lebih kuat dibandingkan kondisi kurs saat ini.
“Penyesuaiannya cukup tinggi, tapi saya tidak akan sebutkan angkanya agar rupiah tidak melemah lebih signifikan. Namun pada dasarnya, fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang atau lebih kuat,” jelasnya.
Untuk menjaga stabilitas pasar, Kementerian Keuangan telah melakukan intervensi melalui pembelian kembali Surat Berharga Negara (SBN) di pasar obligasi dengan nilai mencapai Rp 8 triliun. Purbaya mengklaim langkah ini berhasil menjaga kestabilan *yield* SBN tenor 10 tahun.
Di sisi lain, analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal dan sentimen domestik yang kurang kondusif.
“Rupiah diperkirakan masih akan tertekan terhadap dolar AS yang menguat, dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian global,” pungkasnya.







