Tutup
Perbankan

Tercabaikan Padukan Tradisi, Raih Sukses Kuliner Berkat Digitalisasi

185
×

Tercabaikan Padukan Tradisi, Raih Sukses Kuliner Berkat Digitalisasi

Sebarkan artikel ini
cerita-baso-aci-rumahan-‘tercabaikan’-sukses-berkembang-berkat-bri
Cerita Baso Aci Rumahan ‘Tercabaikan’ Sukses Berkembang Berkat BRI

Jakarta – Brand kuliner lokal asal Bandung, Tercabaikan, berhasil mencuri perhatian di industri makanan. Berawal dari bisnis rumahan, kini tercabaikan menjadi salah satu pemain utama yang sukses memadukan cita rasa tradisional dengan sentuhan modern.

Tercabaikan menawarkan beragam menu andalan, mulai dari baso aci, cimol bojot, cireng kuah, hingga mie kocok. Inovasi rasa dan penyajian menjadi kunci utama dalam menarik minat konsumen.

Ciri khas Tercabaikan terletak pada racikan bumbu yang kuat serta pilihan topping dan isian yang beragam. Menu-menu seperti kupat tahu dengan sambal geprek atau chili oil, serta varian baso aci dengan kuah keju, seblak, hingga soto menjadi favorit pelanggan.

Inggra DP, pemilik Tercabaikan, mengungkapkan bahwa ide usaha ini muncul saat dirinya berkunjung ke Garut dan melihat antusiasme masyarakat terhadap baso aci.

“Usaha ini berawal dari keputusan saya untuk berhenti dari pekerjaan sebelumnya,” kata Inggra. “Ide membuat baso aci muncul ketika saya berkunjung ke Garut dan melihat sebuah toko baso aci yang sangat ramai hingga para pembeli rela mengantre sejak subuh,” lanjutnya.respons positif dari keluarga dan lingkungan sekitar menjadi pendorong utama bagi Inggra. Pada tahun 2017, ia membagikan baso aci buatannya saat syukuran pernikahan.

Tak disangka, pesanan pre-order pun mulai berdatangan, menandai awal mula berkembangnya tercabaikan.

Di awal perjalanan bisnisnya, Inggra menghadapi tantangan karena semua proses usaha masih dilakukan sendiri, mulai dari pengadaan bahan baku hingga pemasaran.

Namun, ia tak menyerah dan terus mengembangkan pemasaran melalui berbagai kanal digital, seperti website, marketplace, media sosial, WhatsApp Business, dan layanan pesan antar.

Inggra juga memanfaatkan platform LinkUMKM dari BRI untuk meningkatkan kapasitas bisnisnya. Ia bahkan mengikuti pelatihan di Rumah BUMN Bandung.”Menurut saya program ini sangat bermanfaat karena menyediakan pelatihan gratis yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha,” jelas Inggra.

hingga akhir 2025, LinkUMKM telah dimanfaatkan oleh 14,98 juta pelaku UMKM sebagai sarana pendampingan usaha secara daring.

Platform ini memiliki enam fitur utama yang terintegrasi, didukung 750 modul pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha.

Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menyatakan bahwa LinkUMKM BRI dirancang sebagai ekosistem pembelajaran untuk membantu UMKM memperkuat kapasitas usaha.

“Melalui LinkUMKM, BRI mendorong pelaku UMKM untuk terus meningkatkan kapasitas usaha melalui akses pelatihan yang relevan dengan kebutuhan bisnis saat ini,” ujarnya.

ekosistem ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memperluas jaringan dan menangkap peluang pasar di era digital.

“Dengan penguatan kapasitas yang berkelanjutan, kami berharap semakin banyak UMKM yang mampu naik kelas dan memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional,” pungkasnya.