Jakarta – YouTube mencatatkan pendapatan fantastis di tahun 2025. Platform berbagi video milik Google ini berhasil meraup lebih dari US$60 miliar atau setara dengan Rp1.011 triliun.
Angka ini melampaui pendapatan Netflix yang mencapai US$45 miliar atau sekitar Rp758,4 triliun.
Google mengungkapkan bahwa pendapatan YouTube berasal dari iklan dan layanan langganan. Ini adalah kali pertama Google secara terbuka mengungkap pendapatan tahunan YouTube sejak mengakuisisi platform tersebut pada tahun 2006.
Analis senior Midia Research, Hanna Kahlert, menilai capaian ini tidak mengejutkan.
“youtube telah menjadi hampir seperti infrastruktur bagi generasi digital,” ujarnya, seperti dikutip dari BBC, Minggu (8/2/2026).
Kahlert mencatat bahwa lebih dari 70 persen konsumen global menggunakan YouTube setiap minggu dan lebih dari 50 persen setiap hari.
Kepala Eksekutif Google, Sundar Pichai, menyebut 2025 sebagai “tahun yang fantastis”. YouTube Premium mendorong total pelanggan berbayar layanan Google melampaui 325 juta.
Sementara itu, kepala Bisnis Google, Philipp schindler, mengatakan YouTube menunjukkan “daya tarik yang kuat dalam langganan”, didukung inovasi seperti paket Premium lebih murah dan YouTube TV.
YouTube Shorts kini mencatat lebih dari 200 miliar tayangan per hari.
Di Inggris, youtube menjadi layanan media paling banyak ditonton kedua setelah BBC.Ofcom mencatat 94 persen pengguna internet dewasa mengakses YouTube, dengan rata-rata waktu tonton 51 menit per hari.
Kepala Eksekutif Netflix, Ted Sarandos, menegaskan, “YouTube bukan hanya video kucing lagi. youtube adalah TV”.
Di tengah pertumbuhan tersebut, kekhawatiran muncul dari para pembuat konten atau content creator terkait dampak kecerdasan buatan (AI).
komisi Uni eropa dan regulator Inggris kini menyelidiki pengaruh ringkasan AI Google terhadap trafik konten.
Google menyatakan akan mencari solusi yang memberi “lebih banyak pilihan bagi pemilik dan penerbit situs web”, sembari tetap meningkatkan investasi besar-besaran di bidang AI.







